Pengantar
Tindakan
manusia menentukan eksistensinya. Lebih lanjut, tindakan menggarisbawahi
perihal siapa dirinya di hadapan Allah, dan mahluk ciptaan lainnya. Bertindak
adalah ciri khas setiap mahluk hidup. Tindakan manusia tidak hanya berkaitan
dengan eksistensinya sebagai mahluk hidup, namun lebih mengarah pada cinta
manusia dalam tindakannya mencerminkan nilai-nilai manusiawi. Makna terminologi
“eksistensi” mengartikan bahwa segala tindakan manusia harus memenuhi syarat moral.
Manusia sebagai
ciptaan Allah
Pemahaman
manusia sebagai ciptaan Allah tidak lepas dari konteks Kitab Suci. Kisah
penciptaan manusia “menurut Gambar Allah” (Kej 1:26-27) dan penciptaan manusia
dari “tanah” (Kej 2:7) menjadi pedoman untuk melukiskan tindakan manusiawi
manusia.[1]
Manusia diciptakan menurut gambar Allah menerangkan bahwa sesungguhnya manusia
mahluk yang paling sempurna dari semua ciptaan lainnya. Manusia memiliki
kesanggupan seperti Allah, kendati demikian eksistensi sebagai mahluk yang sempurna
harus mampu melihat kehadiran Allah dalam mahluk ciptaan lainnya. Selanjutnya
kata tanah memiliki makna simbolis artinya rendah, walaupun diinjak-injak tanah
pada esensinya memberikan kehidupan bagi setiap mahluk hidup.
“Be a
Brother for All” ungkapan Santo Fransiskus Asisi yang artinya menjadi
saudara bagi semua. Kata “semua” merujuk pada ciptaan Allah yang universal.
Bahwa semua ciptaan memiliki kesempatan untuk merasakan kebaikan Tuhan melalui
ciptaan lainnya. Manusia Kristen harus terlibat memelihara bumi dan isinya.
Manusia bukanlah “tuhan” atasnya, melainkan “saudara dan saudari” atas ciptaan
yang berasal dari Allah Maharahim.[2]
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi diantara ciptaan lainnya, namun
kerap kali manusia bertindak tidak sesuai dengan kodrat ia diciptakan. Apa yang harus dilakukan manusia sebagai
ciptaan Allah melihat ciptaan lainnya?
Seperti
yang dikatakan Santo Agustinus “Tuhan adalah pokok pangkal dari kepribadian
manusia”. Tuhan adalah dasar semua mahluk untuk saling berkomunikasi. Sejauh
manusia satu dengan-Nya baik itu pikiran dan kehendak, secara tidak langsung
manusia menggerakkan apa yang ada sebagai paling mendalam untuk saling
mendekatkan. Hanya karena cinta yang paling dalam berasal kebebasan yang paling
luhur. Kebebasan bertindak yang dimiliki manusia membuat dirinya bertindak
sebagai manusia yang otentik. Pada tahap inilah manusia diberi kebebasan untuk
bertindak sesuai dengan kodrat ciptaan.
Kehendak
bebas Manusia
Manusia menyatakan dan mempertimbangkan,
tetapi dia juga berkehendak dan memilih. Yang dikehendaki oleh manusia secara
mutlak adalah kebaikan atau “ada” sebagai kebaikan. Kebaikan adalah “ada”
sebagai objek kemauan. Itulah sebabnya mengapa manusia seharusnya cenderung ke
arah kebaikan dalam dirinya sendiri, yaitu kebaikan sempurna berasal dari
Allah. Seandainya manusia mampu mengenal Tuhan secara utuh jelas bahwa tindakannya
akan mengarah kepada kebenaran.[3]
Segala tindakan manusia sejatinya
mencari kebahagiaan. Secara objektif kebahagiaan hanya ditemukan pada Tuhan.
Namun secara subjektif manusia mencari kebahagiaan di luar realitas yang
objektif. Hal ini didasarkan pada kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia.
Kebaikan moral adalah “ada” sebagai esensi yang bebas. Seringkali manusia jatuh
pada kebaikan semu; seperti suatu racun yang rasanya menyenangkan, kenikmatan
fisik yang hanya sementara. Apabila manusia tidak mampu membedakan tindakan
yang baik dan yang buruk, tidak menutup kemungkinan ia akan melakukan hal yang seolah-olah
baik, namun tidak pada tatanan secara objektif dari kaidah-kaidah yang berlaku
umum.
Moralitas melibatkan pemeriksaan
tindakan manusia untuk memutuskan apakah itu baik/buruk dan mengetahui secara
pasti apakah itu benar/salah. Setiap orang memiliki kapasitas (kemampuan; ability)
untuk memilih apa yang benar dan menolak apa yang salah. Kehendak bebas
memainkan peran penting dalam tindakan manusia dan moralitasnya.[4]
Semua perbuatan self-control (penguasaan diri) adalah perwujudan
kehendak. Kebebasan manusia tidak terdiri hanya dari kemampuan untuk melakukan
apa yang diinginkannya. Beberapa binatang dapat berbuat menurut kemauan mereka,
tetapi bukan karena kemampuan mereka untuk “memutuskan” apa yang ingini mereka
perbuat, melainkan situasi lingkungan menentukan perbuatan dari tindakannya.
Sebaliknya manusia tidak hanya berbuat apa yang diinginkannya, tetapi juga
memutuskan apa yang ingin diperbuatnya.[5]
Hubungan
antara Pengetahuan dan Tindakan Manusia
Pengetahuan adalah suatu kegiatan yang
memengaruhi subjek (yang mengetahui) dalam dirinya. Eksistensi dari pengetahuan
memperkaya subjek. Ada suatu kesempurnaan yang mengembangkan eksistensinya.[6]
Sedangkan tindakan, merujuk pada perbuatan atas pengetahuan yang dimiliki
oleh manusia. Dengan kata lain, pengetahuan di impresi ke dalam tindakan sejauh
pengetahuan itu baik maka manusia akan melakukan yang benar dan sebaliknya,
pengetahuan yang kurang baik menjerumuskan manusia pada perbuatan yang
paradoks.
Fontes Morales
yaitu sumber-sumber atau hal mendasar untuk pertimbangan moral. Pertama,
Tindakan Sendiri (Objek Tindakan=Finis Operis). Tindakan yang sudah
memiliki maksud tertentu. Kedua, Keadaan Tindakan (Circumstantiae),
keadaan memengaruhi berat ringannya suatu tindakan. Keadaan adalah kualitas
yang membuat tindakan abstrak menjadi konkret pada individu. Keadaan mencakup
hal 5W+1H; what, how, where, when, why, how dalam dimensi waktu. Ketiga,
Maksud Tindakan (Finis Operantis), adalah tindakan yang memiliki muatan
motivasi dalam dirinya untuk bertindak baik atau buruk. Keempat, Cara Tindakan.
Tujuan yang baik tidak boleh menghalalkan cara yang buruk.[7]
Pengetahuan manusia harus mampu
melihat dimensi-dimensi kebenaran dari suatu tindakan. Tindakan yang objeknya
buruk tidak dapat dibenarkan secara moral mulai dari tujuan, keadaan, maupun
niat.[8]
Apakah menjadi pandai itu baik? Pada umumnya semua mahasiswa ingin mendapatkan
nilai A, lulus ujian, dan mendapatkan pekerjaan. Situasi itu memaksanya untuk
melakukan hal-hal demi kepentingan dirinya. Akan tetapi tujuan baik ini harus
didasarkan pada cara yang benar seperti; tidak menyontek saat ujian maupun
mengerjakan tugas, menyingkirkan teman angkatan yang pintar, dan lain
sebagainya. Jelas bahwa tujuan baik tidak melegitimasi sarana yang buruk. Sama
halnya mencuri uang demi membantu mereka yang membutuhkan. Secara tindakan itu
adalah jahat, namun motivasi dari tindakan itu baik. Dalam kacamata moral,
jelas bahwa menyalahkan segala sesuatu yang didasarkan pada kejahatan. Tindakan
motivasi yang baik harus didukung dengan cara yang benar, dengan demikian manusia
bertindak secara manusiawi di hadapan sesamanya.
Penutup:
jalan menuju kebenaran
Manusia harus selalu sadar akan kodrat dirinya sebagai
mahluk ciptaan Tuhan. Karena itu, manusia harus mampu melihat kehadiran Allah
dalam ciptaan lain. Di sisi lain manusia memiliki kehendak bebas untuk
bertindak. Dalam proses hidup, seringkali esensi dari “ciptaan Tuhan” menjadi
samar-samar akibat kejatuhan manusia dalam memahami hakikat kebenaran sejati.
Karena itu, kehendak bebas yang ada dalam diri manusia dituntun oleh
pengetahuan yang sejati yaitu “ada” yang memberikan kebenaran. Akhirnya, tindakan
motivasi yang baik harus didukung dengan cara yang benar, dengan demikian
manusia bertindak secara manusiawi di hadapan sesamanya.
[1] Largus Nadeak,
Topik-topik teologi Moral Fundamental:
Memahami Tindakan Manusiawi dengan Rasio dan Iman (Medan: Bina Media
Perintis, 2015), hlm.
20.
[2] Largus Nadeak,
Topik-topik teologi Moral Fundamental…,
hlm.
31.
[3]Louis Leahly, Manusia
sebuah misteri, sintesa filosofis tentang mahluk paradoksal (Jakarta: PT
Gramedia, 1981). hlm. 111.
[4] Patrick J. Sheeran, Ethics
in Public Administration: A Philosophical Approach (Greenwood Publishing
Group, 1993). hlm. 61.
[5] Louis Leahly, Manusia
sebuah misteri…, hlm. 114.
[6] Louis Leahly, Manusia
sebuah misteri…, hlm. 59.
[7] Largus Nadeak,
Topik-topik teologi Moral Fundamental…,
hlm.
32.
[8] Patrick J. Sheeran,
Ethics in Public Administration..., hlm. 67.
Sumber:
1.
Nadeak, Largus. Topik-topik teologi Moral Fundamental: Memahami Tindakan Manusiawi dengan
Rasio dan Iman. Medan: Bina Media Perintis, 2015.
2.
Leahly, Louis. Manusia sebuah misteri,
sintesa filosofis tentang mahluk paradoksal. Jakarta: PT Gramedia, 1981.
3.
Patrick J. Sheeran, Ethics in Public
Administration: A Philosophical Approach. Greenwood Publishing Group, 1993.
Komentar
Posting Komentar