Langsung ke konten utama

Dewa Zeus dan Hermes dalam Kisah Para Rasul 14:7-20


 
Dewa Zeus dan Hermes dalam Kisah Para Rasul 14:7-20

Pewartaan yang disalahartikan oleh orang-orang penyembah dewa Zeus 



1.     Latar Belakang

Perjalanan misi Paulus dan Barnabas dalam memberitakan Injil mendapat penafsiran yang berbeda di kalangan orang-orang penyembah Zeus di Listra (lih. Kis 14:7-20). Mereka melihat tindakan rasul-rasul itu sebagai bagian dari perbuatan dewa-dewi dalam kepercayaan mitologi Yunani[1] (lih. Kis14:12).

Perjalanan misi itu dimulai ketika mereka [Paulus dan Barnabas] di Listra, sekitar 25 mil sebelah selatan Ikonium, mereka bertemu dengan seorang yang lumpuh sejak lahir dan tak pernah mampu berjalan. Melihat iman orang tersebut, Paulus memerintahkan agar dia berdiri, dan orang itu dengan patuh melonjak berdiri dan berjalan kesana-kemari (lih. Kis 14:8-10). Orang banyak berseru bahwa dewa-dewa telah turun! Mereka yakin Barnabas adalah Zeus, sementara Paulus dianggap sebagai Hermes (Kis 14:11-12).[2] Karena itu, mereka mengidentifikasi bahwa yang datang kepada mereka adalah dewa-dewi mitologi Yunani.

Tanggapan Paulus kepada orang-orang penyembah Zeus menegaskan identitas dan peran mereka yang sebenarnya: “Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (Kis 14:15). Dengan kata lain, Paulus hendak menegaskan bahwa mereka sebagai manusia biasa untuk memberitakan Injil Yesus Kristus yang satu dan benar.

 

2.     Perumusan dan Pembatasan Tema

Dalam Perjanjian Baru, kata “Zeus” dan “Hermes” hanya muncul sekali (lih. Kis 14:12). Kata-kata ini digunakan oleh para penyembah Zeus untuk mengidentifikasikan kata “Dewa” yang merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas dalam rangka memberitakan Injil di Listra (Kis 14:15). Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia:Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara. (Kis 14:11-12).

Identitas “Dewa” dalam bahasa Yunani sering diartikan sebagai θεός. Kata Theos diidentifikasikan sebagai berikut: (1) Sebagai keberadaan Ilahi tertinggi, Allah yang sejati, hidup, dan pribadi (lih. Mat 1:23; Yoh 1:1). (2) Sebagai dewa berhala (lih. Kis 14:11; 19.37). (3) Menjelaskan tentang iblis sebagai roh penguasa zaman ini dewa (lih. 2Kor 4:4). (4) Arti kiasan merujuk tentang orang-orang yang patut dihormati dan dihormati sebagai penguasa dan hakim dewa (lih. Yoh 10.34).[3]

Dewa atau Tuhan adalah sebuah istilah yang umumnya digunakan dalam dunia kuno untuk makhluk yang memiliki kekuatan atau memberikan manfaat yang melebihi kapasitas manusia. Istilah “Theos” tidak hanya merujuk pada Allah Israel, melainkan juga digunakan untuk merujuk pada Allah bangsa-bangsa lain, salah satunya dewa orang-orang Yunani yang biasanya disebut sebagai Zeus maupun Hermes (lih. Kis 14:12).

Dengan demikian, penulis tertarik untuk menelusuri alasan mengapa mereka [para penyembah Zeus], mengidentifikasi Barnabas sebagai Zeus dan Paulus sebagai Hermes. Pembahasan akan dimulai dari penjelasan singkat paham mitologi Yunani yang berkembang pada masa itu, kemudian penulis akan menjelaskan alasan mengapa orang-orang yang menerima pemberitaan injil mengidentifikasi bahwa itu bagian dari perbuatan dewa-dewi kepada mereka.

 

3.     Zeus dan Hermes dalam Konteks Mitologi Yunani

31. Asal Usul Mitologi Yunani

Awal segalanya berasal dari Chaos, keadaan gelap dan kacau tanpa bentuk dan batas yang jelas. Di dalamnya terdapat elemen dunia seperti udara, air, tanah, dan api. Kekuatan elemen ini kemudian memisahkan diri, membentuk Gaia (bumi) dengan elemen api, tanah, dan air, serta Uranos (langit) dengan bintang-bintang, planet, api, dan udara. Gaia dan Uranos menjadi pasangan, melahirkan mahluk-mahluk yang bernama Titan. Uranos, khawatir akan kekuatan anak-anaknya di kemudian hari, oleh sebab itu ia membelenggu dan melempar mereka ke Tartaros (bagian terdalam bumi). Para Titan memberontak, memicu Gaia (ibunya) turun ke Tartaros. Gaia mendorong anak-anaknya merebut takhta ayahnya, salah satu anaknya yang berani hanya Kronos. Ia dilepaskan oleh ibunya, menyerang dan menggantikan Uranos sebagai penguasa dunia.

Uranos mengutuk agar Kronos mengalami nasib serupa. Kronos menikahi adiknya, Rhea, dan karena tak ingin kekuasaannya diambil, ia menelan anak-anak yang dilahirkan. Rhea merasa tidak bahagia dengan situasi tersebut, dan dia merencanakan sesuatu saat melahirkan Zeus di dalam gua di Gunung Ida, Pulau Kreta. Kronos menelan batu yang dibungkus Rhea, menganggapnya sebagai Zeus. Ketika Zeus dewasa, ia mengalahkan Kronos, yang menyebabkan Kronos memuntahkan anak-anaknya (Poseidon, Hades, Demeter, Hestia, Hera, Zeus) dan batu yang ditelannya.

Setelahnya, terus terjadi perang antara Zeus dan saudara-saudaranya dengan Titan dan para Giant, makhluk kuat yang lahir dari Gaia. Zeus menang dalam perang ini dan membangun istana di Olympus sebagai tempat tinggal dewa-dewi. Zeus membagi kekuasaannya di alam semesta dengan kedua saudara laki-lakinya, Poseidon dan Hades. Zeus menguasai surga dan langit, Poseidon bertanggung jawab atas lautan dan air, sementara Hades memimpin di alam baka dan dunia akhirat. Hera, kakak perempuannya, menjadi isterinya.

Di istana Olympus selain bersemayam Zeus dan Hera masih ada 10 dewa dewi inti lainnya, yaitu dua kakak perempuan Zeus, Demeter dan Hestia dan putra-putri Zeus, yaitu Ares, Hephaistos, Hermas, Aphorodite, Phoibos Apollon, Artemis, Pallas Athena, Habe. Kedua belas dewa-dewi ini disebut sebagai Dewa-dewi Surga atau langit. [4]

 

32. Dewa Zeus

Zeus berasal dari garis keturunan Kronos dan Rhea dalam mitologi Yunani Kuno. Memegang peranan sebagai penguasa segala dewa dan dewi, Zeus menikmati kedudukan tertinggi di seluruh dunia dan alam semesta. Tugasnya melibatkan pemeliharaan ketertiban, perdamaian, serta moralitas di dunia ini. Berbagai elemen alam seperti hujan, petir, guntur, angin, dan salju menjadi tanggung jawabnya, diatur demi kesejahteraan dunia dan umat manusia. Kemampuannya memberikan berkat dan rahmat kepada manusia, serta menghargai keberanian dan kekuatan jasmani dalam peperangan, menandakan sifat-sifat yang dijunjung tinggi oleh Zeus.

Secara visual, Zeus digambarkan sebagai seorang pria yang wajahnya memancarkan keagungan dan kebaikan. Rambutnya lebat dan berombak, menciptakan postur tubuh yang bidang dan kuat. Dalam representasinya, patung Zeus sering dihiasi oleh patung burung rajawali, menjadi lambang khasnya. Tidak hanya melalui elemen alam seperti guntur, petir, dan angin, tetapi kehendaknya juga sering disampaikan melalui simbolisme burung rajawali. Dengan segala atribut dan sifat-sifatnya yang unik, Zeus menonjol sebagai sosok yang memiliki peranan sentral dalam mitologi Yunani, memegang kendali atas keberlangsungan alam semesta dan interaksi dengan umat manusia.[5]

 

33. Dewa Hermes

Hermes adalah anak dari Zeus dan Maya, seorang peri, yang memiliki peran penting dalam mitologi Yunani Kuno. Ia dikenal sebagai pesuruh dan pembawa berita para dewa, terutama menyampaikan pesan-pesan dari Zeus. Selain itu, Hermes berfungsi sebagai pemandu jiwa-jiwa orang mati menuju dunia bawah. Keunikan Hermes tidak hanya terletak pada kecerdasan pikirannya, tetapi juga pada kecepatan gerak dan kelicikannya.

Dalam berbagai aspek, Hermes juga dihormati sebagai dewa pelindung para gembala, pedagang, dan bahkan pencuri. Ia sering digambarkan sebagai seorang pemuda yang tampan dan atletis, tanpa jenggot, atau kadang-kadang sebagai seorang pria yang lebih tua dengan janggut. Hermes sering kali terlihat mengenakan sepatu bersayap dan memegang tongkat pembawa berita, mencerminkan sifat-sifatnya yang bersifat dinamis dan multifungsi.[6]

 

 

4.     Barnabas dan Paulus disebut sebagai Zeus dan Hermes

Para Rasul [Paulus dan Barnabas] yang memberitakan Injil di Listra diidentifikasikan oleh orang-orang sebagai Dewa Zeus dan Hermes atas perbuatan yang mereka lakukan (menyembuhkan orang lumpuh) (lih. Kis 14:7). Perbuatan ini sontak memicu keyakinan yang pernah dimiliki oleh orang-orang yang berada di wilayah pemberitaan injil. Seperti yang telah diuraikan di atas, orang-orang yang berada di sekitar daerah Yunani telah memiliki keyakinan jauh sebelum pewartaan Injil Yesus Kristus datang kepada mereka. Dengan adanya pemberitaan yang dilakukan oleh para rasul memicu ingatan mereka akan penyelenggaraan yang berasal dari mitologi Yunani (menyembah banyak dewa-dewi) bukan dari Allah yang satu. Lalu bagaimana dapat dijelaskan Barnabas dan Paulus disebut sebagai Zeus dan Hermes, sedangkan menurut kepercayaan mereka terdapat banyak dewa-dewi.

Identifikasi Paulus dan Barnabas dengan Zeus dan Hermes (ay.11-12) dapat dimengerti, mengingat bahwa “Zeus adalah Dewa yang paling banyak disembah di Galatia pada waktu itu”. Di wilayah Listra, terdapat ukiran dan prasasti yang menunjukkan Zeus ditemani oleh Hermes. Respon bersemangat penduduk Listra dapat ditelusuri ke legenda kuno yang diceritakan ulang oleh Ovidius (43–17 SM). Legenda tersebut menceritakan Zeus dan Hermes yang mengunjungi pegunungan di Frigia menyamar sebagai orang biasa. Meskipun ditolak dari seribu rumah yang mereka cari untuk menginap, akhirnya mereka diterima oleh pasangan tua ke dalam rumah sederhana mereka. Dewa-dewa tersebut mengubah rumah itu menjadi kuil dan menghancurkan semua rumah yang menolak mereka.

Paulus dan Barnabas tidak dapat memahami apa yang dikatakan oleh penduduk karena mereka berteriak “dalam bahasa Likaonia” (ay.11). Ini menjelaskan keterlambatan respons mereka terhadap rencana untuk mempersembahkan kurban kepada mereka. Ketika mereka mengetahui hal ini, respons mereka cepat dan khas orang Yahudi (Orang Yahudi diharuskan merobek pakaian mereka ketika mendengar penghujatan) (ay.14). Ini adalah reaksi berlawanan dengan Herodes ketika ia disamakan dengan dewa (bdk. Kis 12:22–23). Dengan itu, ada pandangan yang berlawanan dari sikap para rasul dalam menanggapi apa yang dilakukan oleh orang-orang penyembah dewa Zeus selain itu ia menyampaikan pemberitaan injil kepada mereka dan menegaskan peran dan tugas sebagai Rasul Tuhan.

Paulus menggunakan situasi ini untuk menyampaikan kesaksian tentang Injil, menyatakan bahwa dia dan Barnabas menyajikan pesan yang jauh lebih tinggi daripada yang dapat diperoleh dari dewa-dewi. Karena itu, Paulus menyuruh “meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (ay.15, mengacu pada korban yang disiapkan). Ini adalah pemberitaan yang pertama dalam Kisah Para Rasul yang disampaikan kepada khalayak yang tidak dipengaruhi oleh kepercayaan dari orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, Paulus harus memulai dari awal dengan informasi fundamental mengenai pembedaan Tuhan dan Dewa-Dewi mitologi Yunani. Pendekatan Paulus jelas untuk membedakan Tuhan Allah dari dewa-dewa pagan dengan menunjukkan bahwa Dia adalah Pencipta segala sesuatu yang ada (ay.15), yang pengaruhnya sebagai pemelihara ciptaan terasa di seluruh dunia (ay.16-17). Dia juga Allah yang hidup, yang menyerukan kita untuk bertobat kepada-Nya (ay.15).[7]

Dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa Barnabas mungkin diidentifikasi sebagai Zeus karena penampilannya yang tinggi dan gagah. Identifikasi ini mungkin terjadi karena Paulus, yang menjadi pembicara utama, diasosiasikan dengan Hermes. Hermes dianggap dewa para pencuri, cerdas pikiran, dan pandai berbicara. Meskipun Barnabas mungkin memiliki penampilan yang sesuai dengan Zeus, peran Paulus sebagai pembicara utama mendominasi identifikasi mereka. Dengan kata lain, Barnabas mungkin sesuai dengan Zeus, pengidentifikasian mereka lebih didasarkan pada peran dan kemampuan berbicara, dengan Paulus diasosiasikan dengan Hermes, utusan dan pembicara utama di antara para dewa. Terlepas dari itu semua, paham mereka dipengaruhi oleh situasi keyakinan mitologi Yunani yang telah berkembang pada masa itu.[8]

 

5.     Penutup

Selama melakukan tugas misi mereka di Listra, Paulus dan Barnabas diartikan secara keliru oleh penyembah dewa Zeus setelah menyembuhkan seorang yang lumpuh (lih Kis 14:7-12). Akibatnya, masyarakat menganggap mereka sebagai dewa Zeus (Barnabas) dan Hermes (Paulus), berlandaskan pada keyakinan politeisme kuno bangsa tersebut. Dalam situasi ini, identifikasi mereka sebagai Zeus dan Hermes mencerminkan pemahaman mitologi Yunani yang menetapkan Zeus sebagai penguasa langit dan Hermes sebagai pembawa pesan. Mengamati kesalahpahaman tersebut, Paulus berupaya menegaskan bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang menyampaikan Injil.

Paulus memanfaatkan kesalahpahaman ini sebagai kesempatan untuk memberitakan Injil kepada mereka, membedakan antara Tuhan Allah yang hidup sebagai Pencipta dari dewa-dewi mitologi Yunani. Meskipun Paulus dan Barnabas dianggap sebagai dewa, penjelasan Paulus mengarah pada panggilan untuk berbalik kepada Tuhan yang sejati. Identifikasi mereka sebagai Zeus dan Hermes mungkin dipengaruhi oleh penampilan fisik dan peran pembicaraan mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kisah ini menunjukkan tantangan dalam memahami dan menerima pesan Injil di tengah-tengah masyarakat yang telah tertanam dengan keyakinan akan dewa-dewi, sekaligus menggambarkan upaya Para Rasul untuk menyampaikan kebenaran tentang Tuhan Allah kepada mereka yang hidup dalam pemahaman yang berbeda.

 

 

 

 

 

 

Bibliography

 

Bock, Darrell L. Acts Commentary on The New Testament. Washington: Barker Academic, 2007.

Bruce, F. F. The Book of the Acts. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1998.

Dianne Bergant, Robert J. Karris,. Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru (judul asli: The Collegeville Bible Commentary) diterjemahkan oleh A.S. Hadiwiyata. (Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Flanagan, Nael M. Tafsiran Kisah Para Rasul (judul asli: New Testament Reading Guide, The Acts of the Apostles) diterjemahkan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Keener, Craig S. Acts an Exegetical Commentary Volume II . Washington: : Barker Academic, , 2013.

Sutojo, Kusomo. Ikhtisar ringkasan dewa-dewi Yunani Purba. Bandung: Djambatan, 1976.

BibleWorks Version 10.0.4.114.

 

 

Sumber Internet

 

https://www.greekmythology.com/Olympians/Zeus/zeus.html, diakses 20 November 2023

 

https://www.theoi.com/Olympios/Hermes.html, diakses 20 November 2023

 



[1] Masyarakat Yunani Kuno mempraktikkan keyakinan Politeisme, di mana mereka menyembah sejumlah dewa dan memiliki pandangan unik terkait alam semesta, asal-usul, serta penguasaan planet-planet. Para dewa ini diberi nama sesuai dengan kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki, dan mereka memegang kendali atas berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk kematian, kehidupan, rezeki, duka, dan cinta. Dewa dan dewi dianggap sebagai penguasa yang mengatur kehidupan manusia, dan masyarakat Yunani Kuno dengan penuh penghormatan memuja serta menyembah mereka sebagai penguasa dunia. [lih. Kusomo Sutojo, Ikhtisar ringkasan dewa-dewi Yunani Purba (Bandung: Djambatan, 1976), hlm. 3.]

[2] Nael M. Flanagan, Tafsiran Kisah Para Rasul (judul asli: New Testament Reading Guide, The Acts of the Apostles) diterjemahkan oleh Lembaga Biblika Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm.98.

[3] Lih. Kata “Dewa” dalam bahasa Yunani θεός, BibleWorks Version 10.0.4.114.

[4] Kusomo Sutojo, Ikhtisar ringkasan dewa-dewi Yunani…, hlm. 4-5.

 

[5] https://www.greekmythology.com/Olympians/Zeus/zeus.html diakses 20 November 2023; bdk. Kusomo Sutojo, Ikhtisar ringkasan dewa-dewi Yunani…, hlm. 4-5.

 

[6] https://www.theoi.com/Olympios/Hermes.html diakses 20 November 2023; bdk, Kusomo Sutojo, Ikhtisar ringkasan dewa-dewi Yunani…, hlm. 12.

[7] Darrell L. Bock, Acts Commentary on The New Testament (Washington: Barker Academic, 2007), hlm. 213. bdk; F. F. Bruce, The Book of the Acts (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1998), hlm. 274; bdk. Craig S. Keener, Acts an Exegetical Commentary Volume II (Washington: Barker Academic, 2013), hlm. 114.

[8] Nael M. Flanagan, Tafsiran Kisah Para Rasul…, hlm. 98, bdk; Dianne Bergant, Robert J. Karris, Tafsiran Alkitab Perjanjian Baru (judul asli: The Collegeville Bible Commentary) diterjemahkan oleh A.S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 234.

Komentar

  1. Dewa Zeus dan Hermes dalam pembahasan ini sangat mengarah pada pribadi kedua tokoh dalam Kisah Para Rasul seperti Paulus dan Barnabas. Artikel ini benar-benar menggali dua pribadi dalam zaman yang berbeda, pertama dua pribadi dalam mitologi Yunani yang berkaitan dengan dewa Zeus dan Hermes. Dan yang kedua membahas dua sisi sifat atau pribadi dua tokoh dalam Kisah Para Rasul. Artikel ini sangat menarik karena pembahasannya mudah dimengerti.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPUCUK SURAT UNTUK SAUDARI MAUT

Kematian bagi sebagian besar adalah mimpi buruk yang harus dan tetap terjadi. Tidak ada yang dapat menolak atau meyakinkan dirinya bahwa kehidupan akan berjalan sesuai dengan ekspetasi dirinya sendiri. Kematian akan menjadi semakin menyedihkan kala orang yang kita sayangi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pergi menuju kehidupan kekal bersama Bapa di surga. Lord what do you want me to? St. Francis of Asisi. *** “Aku memilih untuk mengabdikan diri kepada Tuhan, aku rasa inilah pilihan hidup yang mesti aku jalani untuk selama-lamanya” ucapku dalam hati seusai misa pagi. Entah mengapa ada suara yang menggema seakan-akan menarikku menjawab panggilan lembut itu. Diawali dengan hari yang cerah, alam menyapa, kabut berbicara, seakan membuka mata. Pagi itu, aku hendak menghadap rektor seminari pater Anselmus. Aku ingin mengutarakan segala gejolak yang selama ini membungkus isi hatiku. Namun langkah ku terhenti seketika mengingat kondisi orangtuaku yang mengidap tumor ganas di tubuhnya. Pe...

TINDAKAN MANUSIA Suatu eksistensi manusia antara “baik” dan “jahat”

Pengantar Tindakan manusia menentukan eksistensinya. Lebih lanjut, tindakan menggarisbawahi perihal siapa dirinya di hadapan Allah, dan mahluk ciptaan lainnya. Bertindak adalah ciri khas setiap mahluk hidup. Tindakan manusia tidak hanya berkaitan dengan eksistensinya sebagai mahluk hidup, namun lebih mengarah pada cinta manusia dalam tindakannya mencerminkan nilai-nilai manusiawi. Makna terminologi “eksistensi” mengartikan bahwa segala tindakan manusia harus memenuhi syarat moral.   Manusia sebagai ciptaan Allah Pemahaman manusia sebagai ciptaan Allah tidak lepas dari konteks Kitab Suci. Kisah penciptaan manusia “menurut Gambar Allah” (Kej 1:26-27) dan penciptaan manusia dari “tanah” (Kej 2:7) menjadi pedoman untuk melukiskan tindakan manusiawi manusia. [1] Manusia diciptakan menurut gambar Allah menerangkan bahwa sesungguhnya manusia mahluk yang paling sempurna dari semua ciptaan lainnya. Manusia memiliki kesanggupan seperti Allah, kendati demikian eksistensi sebagai mahluk yang ...