A. Tesis
Ibn Sina dalam filosofi emanasi menekankan ke-Esaan Allah. Akal pertama (Allah) Berpikir tentang dirinya sendiri dan pemikiran itu menjadi daya. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak, melainkan dari akal I sampai akal X yang berujung pada penciptaan alam semesta.
B. Pendahuluan
Ibn Sina dalam ajarannya tentang metafisika berbicara tentang akal dan jiwa (soul) planet yang beremanasi dari Tuhan. Istilah emanasi dapat kita artikan sebagai pancaran. Konsep emanasi yang di cetuskan oleh Ibn Sina hampir sejalan dengan konsep Al-Farabi. Yang menjadi pembeda dari konsep ini adalah; Al-Farabi mengemukakan bahwa emanasi, Tuhan akal berpikir tentang diri-Nya dan dari pemikiran itu akan muncul wujud-wujud yang lain. Sedangkan Ibn Sina mengatakan bahwa alam yang diciptakan oleh Tuhan dari keadaan ada, bukan dari ketiadaan.
Ibn Sina terpengaruh oleh para filsuf Yunani yaitu Plotinus, yang menjelaskan lebih koheren tentang yang satu muncul keberagaman. Yang satu adalah tak terhingga “Absolut” asal dari segala sesuatu. Dengan kata lain, yang satu (Tuhan) tidak langsung menciptakan segala sesuatu dengan yang banyak dari di mulai dengan akal yang pertama hingga berakhir pada akal yang ke sepuluh. Dari yang satu memancarlah semua kebaikan yang akan dikemukakan dalam proses emanasi (pancaran).
C. Konsep Emanasi
1. Tuhan adalah ketunggalan murni
Teori Emanasi dalam Ibn Sina menganut paham dari Plotinus yang mengatakan bahwa dari satu hanya dapat menghasilkan yang satu. Apakah yang dimaksud dengan yang satu? yang satu “Akal Pertama” (Tuhan). Secara kronologis dapat dijabarkan bahwa dalam akal pertama memancar akal kedua yang disebut sebagai langit pertama, hal senada terjadi dan berakhir pada akal sepuluh dan bumi. Dari akal kesepuluh, bagian yang kesembilan mengurus yang berkenaan dengan langit dan yang terakhir muncul yaitu untuk mengurus sesuatu di bumi yang berada di bawah bulan . Ketunggalan murni dari Tuhan adalah tidak dapat dipisahkan antara esensi dan eksistensi. Dengan kata lain Tuhan tidak dapat “tidak ada” ia adalah wujud murni pencipta segala sesuatu, hanya dia yang mampu berdiri sendiri dan tidak tergantung pada ruang dan waktu.
Akal pertama ini mengetahui dirinya sendiri, dan Tuhan pada yang sama. Dari pengetahuan ini muncul dualitas. Selanjutnya dari dualitas berubah menjadi tiga objek pemikiran. Mulai dari dualitas, Akal pertama mempunyai dua sifat: Wajib al-wujud lighairihi, yaitu (sebagai pancaran dari Tuhan), dan Mumkin al-wujud lidzatihi, yaitu (hakikat dirinya).
Ketika akal memikirkan Tuhan akan timbul akal-akal lain. Kita dapat memahaminya dengan penjelasan berikut: Dalam akal pertama objek pemikiran adalah Tuhan dan esensinya. Dari pemikiran terhadap Tuhan menghasilkan akal yang kedua, yang menghasilkan langit pertama. Objek pemikiran ini adalah mengacu pada Tuhan dan dirinya. Dan berlanjut seterusnya hingga pada akal ke sepuluh. Jadi, kembali lagi pada akal pertama yang melimpahkan tiga wujud yaitu akal kedua, jiwa pertama, dan langit. Dalam proses inilah Tuhan Allah menciptakan alam semesta dalam emanasi. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak tetapi melaui akal yang satu dan memancar kepada akal-akal berikutnya.
2. Perbedaan antara Esensi dan Eksistensi
Sejatinya, esensi dan eksistensi adalah dua hal yang berbeda namun kerapkali salah diartikan sebagai yang paradoks. Berbagai asumsi-asumsi menyatakan bahwa keduanya unik namun tidak identik. Pertanyaannya, manakah yang sejati, esensi atau eksistensi?
Reaksi seseorang terhadap suatu peristiwa, sangat berkaitan erat dengan esensi dan eksistensi. Sesuatu dikatakan esensi, ketika seseorang memikirkan atau membayangkan objek tanpa memikirkan apakah ia itu ada atau tidak. Dengan kata lain esensi adalah menitik beratkan makna terdalam dari objek yang biasanya terlontar ucapan, apakah sesuatu itu? Menanyakan substansi bukan keberadaan. Berbeda halnya dengan eksistensi, memikirkan objek yang ada dalam realitas. Misalkan berpikir tentang eksistensi meja. Pemikiran pasti terarah kepada gagasan yang meliputi bentuk, warna, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, esensi tidak terkait dengan eksistensi.
Hakikat tentang eksistensi selalu mengacu kepada penyebab yang pertama, bahwa ia menjadi bereksistensi hanya di dalam ada yang pertama. Hanya dalam Tuhan sajalah esensi dan eksistensi menyatu. Di semua mahluk, esensi terpisah dari eksistensi. Esensi semua mahluk bersifat mungkin, dan dia menjadi bereksistensi hanya karena Tuhan. Ibn Sina dengan argumennya mengatakan bahwa segala sesuatu tergantung pada yang satu (Tuhan). Hal ini menegaskan bahwa, segala sesuatu yang bereksistensi di alam semesta harus dikehendaki oleh Tuhan.
Setiap eksistensi tergantung pada Wujud Niscaya (Tuhan) yang menjaga eksistensi segala sesuatu dengan pancaran cahaya dari Wujud-Nya yang berkesinambungan pada segala sesuatu tersebut. Maka, semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan wujud mungkin, dan secara metafisik, tergantung kepada wujud Niscaya.
Setelah membuat pembedaan dasar, Ibn Sina menegaskan bahwa sekalipun eksistensi selalu ditambahkan kepada esensi, eksistensilah yang memberikan realitas kepada setiap esensi. Walaupun demikian, setiap benda yang eksistensi dapat diketahui ada, tetapi sesungguhnya kita tidak mengetahui apa hakikat benda-benda itu. Boleh jadi, kita hanya memahami keberadaannya tetapi untuk mengetahui secara mendalam hakikatnya itu sulit untuk di pastikan.
Sampai pada kesejatian dari esensi dan eksistensi, Ibn Sina tidak memiliki pemaparan yang sejati terhadap kedua hal ini antara eksistensi dan esensi. Pembahasan mendalam kemudian hari di kemukakan dalam filsafat pada masa Mir Damad, awal abad ke 11 hijriah
D. Kritik dan Relevansi
Pandangan mengenai teori emanasi dapat dikatakan sebuah mitos filosofis. Bagi Saya, pemikiran Ibn Sina yang dipengaruhi oleh aliran Plotinus yang mengatakan bahwa dari yang satu keluar yang satu, mengingkari prinsip awal. Mengapa demikian? Karena ketika akal sampai pada langit dan bulan, ia menjelaskan tentang jiwa dunia. Akal aktif yang awalnya satu namun berujung pada keberagaman yaitu jiwa manusia dan empat elemen yang keluar dari akal aktif. Selanjutnya esensi dari jiwa manusia berujung pada kerinduan kepada yang absolut yaitu Tuhan.
Para filsuf Paripatetik (Ibn Sina) dan Neoplatonik tetap bersikeras mengakui bahwa akal pertama merupakan emanasi pertama dari Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan hadir dari pancaran emanasi yaitu akal. Dapat disimpulkan bahwa, ke-esaan Tuhan masih bisa dipertanyakan karena yang satu hanya keluar untuk yang satu, secara logis tidak berbeda dari prinsip penciptaan. Dengan ini saya juga sadar bahwa manusia memiliki keterbatasan. Begitu banyak hal di dunia ini yang tidak mampu dijelaskan oleh akal budi, kepercayaan dan iman merupakan esensi sesungguhnya dari mahluk hidup yang menyadari bahwa eksistensi dirinya di dunia ini hanya sementara.
Bibliografi
Lezzini, “Ibn Sina’s Metaphysics” in Stanford Encyclopedia of Philosophy.
Roy Jackson, “Avicenna and the Necessary Being” in What is Islamic Philosophy.
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, pembuka pintu gerbang filsafat modern.
Amroeni Drajat, Filsafat Islam, Buat yang Pengen Tahu.
Murtadha Muthahhari, Pengantar Filsafat Islam. Filsafat Teoretis dan Filsafat Praktis
Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama, Filsafat Islam: ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu ‘Arabi
Komentar
Posting Komentar