Kematian bagi sebagian besar adalah mimpi buruk yang harus dan tetap terjadi. Tidak ada yang dapat menolak atau meyakinkan dirinya bahwa kehidupan akan berjalan sesuai dengan ekspetasi dirinya sendiri. Kematian akan menjadi semakin menyedihkan kala orang yang kita sayangi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pergi menuju kehidupan kekal bersama Bapa di surga. Lord what do you want me to? St. Francis of Asisi.
***
“Aku memilih untuk mengabdikan diri kepada Tuhan, aku rasa inilah pilihan hidup yang mesti aku jalani untuk selama-lamanya” ucapku dalam hati seusai misa pagi. Entah mengapa ada suara yang menggema seakan-akan menarikku menjawab panggilan lembut itu.
Diawali dengan hari yang cerah, alam menyapa, kabut berbicara, seakan membuka mata. Pagi itu, aku hendak menghadap rektor seminari pater Anselmus. Aku ingin mengutarakan segala gejolak yang selama ini membungkus isi hatiku. Namun langkah ku terhenti seketika mengingat kondisi orangtuaku yang mengidap tumor ganas di tubuhnya. Perasaan dilema selalu muncul kala itu. Kalau saja kehidupan tidak serumit ini, aku tidak berpikir panjang untuk mengatakan keinginan ku itu.
Telepon berdering. Ku lirik ke layar ponselku “panggilan dari ibu” ku angkat dengan penuh kegembiraan.
“Haloo, apa kabar nak, bagaimana dengan keadaanmu sekarang? Jangan khawatirkan kondisi ibu, kamu baik-baik belajarnya”
Aku terhentak mendengar suara lembut itu. Dibalik sosoknya yang kuat menyimpan perih yang tak terkatakan. Dengan nada datar aku menjawab:
“Ia bu aku baik-baik saja disini, ibu jaga kesehatan ya”
Demikian percakapan singkat aku dengan ibu. Aku tahu bahwa kondisinya tidak seperti apa yang ia katakan itu. Untung ada adikku yang selalu memberi tahu kondisi ibu. Beberapa hari ini ia selalu dibawa bolak balik ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatannya. Aku tahu biaya untuk berobat itu tidak murah, apa lagi hanya ayah sendiri yang berkerja untuk menafkahi keluarga. Aku selau berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk keluargaku.
***
Di kapel yang berbentuk segi lima, dengan gaya bangunan yang kuno ala arsiktektur misionaris Belanda kami mengenakan jubah coklat dengan ikat tali putih dipingang. Waktu itu umurku genap berusia sembilan belas tahun. Banyak juga orang yang menyaksikan dan merasakan kegembiraan yang juga kami rasakan. Perasaan bangga sekaligus sedih menyekat isi hatiku. Sudah dua tahun aku meninggalkan rumah. Aku juga jarang mengabari kondisiku kepada orang
tua. Walaupun hanya sekadar memberitahukan kabar. Hanya doa yang selalu aku panjatkan untuk mereka, agar mereka selalu di berikan kesehatan.
“Bagaimana dengan perasaan mu hari ini, pasti bahagia sekali, apa yang kau impikan tercapai” ucap Rere dengan nada senangnya.
“ia, jangan hanya bilang aku, kamu juga merasakan hal yang sama bukan” ucapku menimpal puiaan darinya.
Rere adalah sahabat yang setia semenjak di seminari. Perawakannya santai, tenang, tidak banyak mengambil pusing setiap masalah yang di hadapainya. Figur yang dapat mencerminkan suka-cita bagi orang-orang di sekitarnya. Dia selalu memberikan semangat kepada ku kala mengalami masalah. Tak terasa kami berdua merasakan kegembiraan yang sama pada malam ini. Bagaimanapun juga secerah langit biru pasti akan ada awan gelap yang menutupinya. Timpalku dalam hati.
Malam itu aku putuskan untuk berbincang dengan keluarga, hanya sekadar menyampaikan bahwa aku telah melakukan apa yang selama ini aku janjikan kepada mereka. Ku raih telpon genggam, dengan jemari lincahku mengetik nomor tujuan yang ingin di hubungi.
“Halooo, buuu, apa kabar? aku ada kabar baik. Malam ini aku telah menerima jubah coklat sebagai bukti pengapdian ku kepada Tuhan”
“Ia nak, ibu dan ayah sangat bangga kepadamu, maafkan kami tidak bisa menghadiri acara itu”
“Tak apa-apa bu, mendengar suara ibu malam ini aku sudah bahagia kok. Ibu selalu jaga kesehatannya, jangan terlalu banyak pikiran, aku selalu membawa nama mu dalam setiap doaku”.
Banyak hal yang kami bincangkan malam itu, sampai akhirnya aku lupa waktu bahwa malam menyimpai hari yang akan ada untuk esok. Aku yakin, mereka juga merasakkan kegembiraan yang aku alami sampai saat ini.
***
Tiga tahun kemudian, aku telah memijakkan kaki di tanah orang, demi tugas perutusan. Aku sangat tahu pasti bahwa keputusan hidup yang aku ambil sekarang ini akan semakin menjauhkan diri ku dengan keluarga, tetapi aku yakin bahwa kedekatan itu bukan hanya sebatas fisik melainkan bagaimana aku mampu merasakan perasaan itu dalam sukatan bersukma. Tidak banyak yang aku lakukan selama masa pandemi covid-19 ini. Aku banyak mengisi waktu untuk sekadar menuangkan kegemaran kepada lukisan.
Ya, memang melukis adalah kegemaranku sejak kecil. Menurutku ciri khas dari karya seni lukis biasanya didasarkan pada corak, gaya, teknik, bahan, dan alat pada karya melalui pertimbangan yang estetis. Sederhananya seni lukis, lebih kepada mengekspresikan imajinasi seorang seniman terhadap lukisan melalui media garis, warna, tekstur, gelap terang, maupun bidang dan bentuk. Terkadang dengan melukis, aku melupakan sejenak semua hiruk pikuk
dunia fana ini. Berhenti sejenak, menghentikan waktu yang sebenarnya tidak dapat di hentikan oleh siapa pun juga.
Hingga, pada akhirnya mimpi buruk yang selama ini aku bayangkan terjadi juga. Pukul 22:13 telepon gengamku berdering. Panggilan dari “Tia” adikku. Perlahan kuraih dengan jari, memencer tombol hijau. Seketika itu juga, suara isak tangis terdengar keras, menutupi makna dari kata-katanya. Ternyata, aku menerima kabar dari adikku bahwa ibu telah tiada lagi. Tak dapat aku membendung air mata ini, tubuhku lemas, napasku tersengal-sengal, aku seperti orang yang kehilangan arah tujuan. Tanpa sadar semua penglihatanku gelap. Aku terjatuh di lantai. Brukkkkkk,……..
Malam itu merupakan puncak dari penantian panjang dari sebuah pengharapan. Aku yakin bahwa saudari maut akan menjemput ibuku. Seperti kata santo Fransiskus “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Maut badani, daripadanya tidak akan terluput insan hidup satu pun”. Aku tahu bahwa cepat atau lambat semua orang akan menerima kematian yang sama, tetapi apakah semua manusia mampu menerima kematian yang akan ia alami bagi dirinya. Kejadian ini seakan-akan menyentuh sisi dari gelapnya kehidupanku. Memahami bahwa tidak ada satu mahluk pun di dunia ini yang abadi. Ibu, semoga engkau menikmati kebahagiaan bersama Bapa di surga.
***
Jam terus berputar, tak terasa. Aku bersyukur mampu melewati kejadian pahit ini. Merelakan orang yang disayangi pergi selama-lamnya. Aku juga bersyukur masih memiliki para saudara yang selalu setia, menghibur tak kala di rundung duka.
Aku selalu melakukan rutinitas yang telah di jadwalkan. Dengan bangun pagi, mengikuti misa. Setelah itu sarapan. Sebelum memulai pelajaran, aku selalu membuat secangkir kopi hangat. Menyuputnya secara perlahan sambil mengirup arama khas dari kopi lokal. Memang baunya sangat menggugah para pencintas kopi. Ya aku, rasa demikian adanya,…
Aku juga sempat menulis sebuah pasan, bertepatan dengan 40 hari meninggalnya ibu. Perlahan aku goreskan tinta pulpen di kertas putih itu. Tak mampu ku bendung bulir bening yang jatuh di pipi. Ungkapan yang berasal dari kedalaman hati. Ku selipkan kertas itu di antara batu pusaranya.
“Bu, sudah 40 hari sejak kamu meninggal. Dan aku masih berusaha keras untuk mengatasi kesedihan di hatiku ini. Tak ada yang perlu ku sesali, dan aku yakin tak ada yang kau sesali di masa lalu kita, karena masa lalu kita semua adalah kenangan indah. Ibu telah dengan setia menjalankan panggilanmu sebagai ibu rumah tangga. Aku sangat bangga padamu, Bu. Dirimu sungguh menginspirasi untuk setia menjalani panggilanku sebagai hamba Tuhan. Aku sangat beruntung pernah memiliki orang tua seperti mu, dan aku pikir dirimu beruntung memiliki diriku, seorang saudara di keluarga ini, karena setiap hari dalam setiap doa harian aku selalu berdoa untukmu. Aku akan selalu mendoakanmu. Ibu, sampai waktuku tiba, karena aku tidak tahu kapan kalian akan menerima mahkota kehidupan abadi dari-Nya. Ibu layak mendapatkannya. Semoga doa kami dapat menjadi tanggamu menuju Yerusalem surgawi. Dan ketika waktuku tiba, aku berharap Ibu akan menungguku di gerbang surga, agar kita bisa bersatu kembali, bukan sebagai orang tua dan anak, tetapi sebagai saudara dan saudari.”
***
Semenjak kematian ibu, sudut pandang melihat dimensi kehidupan seakan-akan perlahan mulai berubah. Aku selalu belajar dari santo Fransiskus yang mampu rendah hati, dan menerima kehendak Tuhan yang terjadi kepadanya. Aku pernah membaca kisah kematian Frasiskus dari Asisi, dan ia menyampaikan sebuah kata-kata yang sangat mengibur dan menguatkan. Satu lagi pesan Fransiskus pada saat-saat kematiannya yang tidak pernah kita (sebagai anak-anak rohaninya) boleh lupakan: “Aku telah melakukan apa yang harus kulakukan; semoga Kristus mengajarmu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya” (LegMaj XIV:3). Begitu dalam. Setelah kejadian ini akhirnya aku tetap kuat menjalani panggilan hidup bakti walaupun dilanda wabah virus corona. Memaknai arti kehidupan dengan kerendahan hati dan cinta kasih, meskipun harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak ada mahluk yang abadi di bawah sinar matahari. Semoga Amin.
Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih
_Ewal_
Sedih broi
BalasHapusMenarik dan sedih kisahnya bro.
BalasHapus