Selamat membaca, semoga terhibur...
Salam hangat, God Bless You.
Angin malam menghembuskan sejuknya dan membawakan kabar kepada setiap insan, kini tiba saatnya untuk membenamkan segala beban pikiran dan suasana hati ke kedalaman mimpi yang indah. Suara-suara aktivitas mulai terhenti, yang terdengar hanyalah ketukan dari detik jarum jam yang beriarama secara pasti dan teratur. Bintang dan bulan mulai beradu memancarkan cahanya masing-masing untuk menghiasi dan melukiskan goresan harapan dan mimpi indah di langit yang jauh. Aku hanya berteman dengan sahabat lama, pena dan buku kecil berwarna hitam yang telah lama bersembunyi di balik rak bukuku. Aku duduk di dalam kamarku yang kecil yang hanya dihiasi oleh kenangan-kenangan kecil dari masa lalu. Di saat ini juga aku mulai menuturkan kata-kata ke dalam ruang pikiran ku sendiri, “Aku tidak ingin membiarkan suasana malam ini pergi meninggalkanku dalam kesepian tanpa ada jejak dalam duniaku.” Aku mencoba untuk menajamkan arah pandanganku agar bisa menembusi kaca jendela.
Setitik cahaya terbang dengan perlahan dan hinggap di kaca jendelaku. Dia sangat indah, tubuhnya kecil, mungil dan dibalut oleh sayap yang halus. Dia memiliki cahaya kecil yang setia untuk menemaninya mengelilingi dunia dalam kegelapan yang menakutkan. Manusia menamainya KUNANG-KUNANG. Saat ia mengepakkan sayapnya, tercium aroma yang tak asing bagiku. Aroma itu mengingatkanku akan sebuah masa yang pernah aku alami. Aku berusaha untuk menggali kisah yang telah tertanam dalam duniaku yang dulu. Jemariku dengan perlahan melenturkan kerasnya untuk menyentuh lembaran tipis yang telah antik. Kelima panca inderaku merasakan aura yang kuat tertanam di dalam buku kecilku. Hingga jemariku terhenti di atas lembaran tipis dengan tinta yang mulai memudar dan buram. Aku mencoba untuk bertahan dalam memoriku tapi aku kalah dengan emosiku, setetes air jernih menetes dari muara mataku. Dadaku sesak, jantungku melemah, nafasku terhenga dan berhenti sejenak, jemariku mulai bergetar secara perlahan. Kakiku tertancap kuat hingga tak dapat lagi digerakkan. Ada goresan kasar dan buram yang terlukis di atas bukuk antikku “Kamis, 28 September 2019”. Lembaran ini membawaku terbang menuju lembaran hidup yang pernah tergores dalam dunia ketigaku. Waktu begitu cepat berlalu, hingga aku tidak menyadari telah dua tahun lamanya lembaran kisah itu pergi ke ruang angkasa yang tidak dapat kugapai selama aku masih hidup.
Kamis, 28 September 2019, merupakan secarik kisah yang membawa goresan luka abadi yang menyayat hati dan dipenuhi dengan bingkai berduri halus yang menusuk perlahan-lahan tubuh ini. Lembaran kisah ini seakan ingin membawaku ke padang pasir. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun telah ku petik dan ku lukiskan dengan berbagai warna-warna dan garis peristiwa yang berbeda-beda. Setiap waktu menceritakan kisahnya masing-masing, ada waktu yang bercerita tentang kisah terang dan ada waktu yang bercerita kisah gelap. Semua kisah itu telah ku selami dalam lautan kehidupan ini.
Kamis, 28 September 2019, kisah yang tak dapat kurangkai dalam kata-kata, hanya dapat diungkapkan oleh tangisan di relung hati. Ini adalah hari di mana saat aku menerima telfon dari rumah, kabar yang tak pernah ku duga akan terjadi bahwa Ayah telah meninggal. Seminggu sebelum ayah meninggal aku masih sempat dua kali menjenguknya ke Rumah Sakit, yang tidak jauh dari tempatku. Di saat aku menjenguknya, hatiku tertikam oleh pandangannya dan melemahkan detak jantungku. Mataku berkaca-kaca menahan air mata. Bibirku bergetar tak mampu mengeja kata-kata untuk memulainya. Kusapa ayah dengan pelukan, bukan dengan suara yang terdengar di udara.
“Apa kabar Din?” Ayah memulai percakapan dengan menanya kabarku, suara kecilnya hampir tidak terdengar ke telingaku.
“Kabarku baik yah..... Ayah sendiri bagaimana perasaannya sekarang?” Tanyaku, sambil memegang tangannya.
“Tak usah khwatir aku baik-baik aja kok, hanya lemas aja, besok kami sudah pulang” jawab ayah yang berusaha tegar untuk meyakinkanku. Di saat aku ingin menelfon kedua kakakku, ia menahan tanganku dan mencegahku untuk tidak mengabarkan kepada mereka berdua.
“Aku baik-baik aja, tak usah telfon kakak-kakakmu, mereka lagi sibuk bekerja, itu akan mengganggu mereka.”
Aku tahu bahwa sebenarnya penyakitnya sangat parah, dan ia berbohong kepadaku bahkan ia tidak memberitahukannya kepada kakakku yang pergi jauh merantau. Ia tidak ingin membuat anak-anaknya cemas dan membebani pikiran kami.
“Rambutmu sudah panjang Din... kenapa belum dipangkas?” Ayah berusaha mengalihkan perbincangan kami.
“Gak apa-apa Yah... aku mau panjangin rambutku.” Jawabku sambil melontarkan senyuman kepada Ayah.
“Tapi rambut ayah juga udah panjang, kenapa belum dipangkas juga. "Tanyaku balik kepada ayah".
“Iya nanti kalau ayah udah sehat dan pulang ke rumah, pasti akan ayah pangkas.”
***
Seminggu setelah ayah kembali dari Rumah Sakit, aku menerima telfon dari ibu.
“Din......Ayah sudah pergi.”
Aku mendengar suara tangisan ibuku. Seketika itu juga rasanya duniaku terhenti mengitari matahari. Ditinggalkan oleh seorang ayah merupakan kabar yang tidak ingin ku hadapi aku ingin berlari jauh dari itu. Tetapi kemana aku hendak lari? sekalipun aku lari sampai ke ujung dunia, tetapi aku tak dapat lari dari kenyataan yang baru saja terlontar ke telingaku. Aku sempat marah ke ibu, aku tidak ingin mendengar kabar itu. Aku marah ke pihak rumah sakit yang terlalu cepat menyerah dan terlalu mengabaikannya, tanpa hasil diagnosa yang jelas dan tidak mengetahui jenis penyakit ayah, tanpa perawatan yang efektif dan berbelit-belit. Keterangan yang tertulis di selembar kertas hanyalah berisi tentang “test covid” yang dinyatakan positif kepada Ayahku. Namun aku masih tidak percaya dengan diagnosa itu, mungkin saja pihak rumah sakit hanya memperalat dan menjadikan kematian ayah dengan menyatakan positif untuk mendapatkan uang tunjangan dari BPJS. Banyak orang yang sakit hanya karena flu dan demam biasa menjadi dinyatakan Covid. Aku kehabisan tenaga untuk marah ke pihak rumah sakit dan ke seluruh dunia, ternyata kemarahanku tidak dapat mengubah apa-apa. Aku tidak tahu harus bagaimana merespon sayatan duka ini, ia begitu tajam menusuk ke hati dan kepalaku.
Melihat kedatangan kakak-kakakku yang penuh dengan emosi tangisan, aku berjuang untuk tetap tangguh di hadapan mereka. Tetapi, tubuhku merespon dengan spontan, air mataku keluar. Mereka marah kepada ibu dan kepadaku, yang tidak mengabarkan mereka pada saat ayah sakit.
“Waktu ayah sakit, kenapa kalian tidak mengabarkan kepada kami, mungkin kami bisa merujuk ayah ke rumah sakit yang lain untuk menanganinya, mungkin juga kami bisa pulang dan merawat ayah, kami ini juga anak-anaknya... kenapa......?”
Seketika itu juga mataku berkaca-kaca, aku dan ibu hanya terdiam dan berusaha menenangkan hati mereka. Aku tahu perasaan mereka berdua yang masih syok ketika mendengar kabar kepergian ayah, mereka masih tidak menerima kenyataan yang ada. Rasa duka yang mendalam karena tidak sempat mendengar suara terakhir dari seorang ayah yang dicintai.
“Kak..... kenapa ayah belum bangun, ini kan udah pagi?” Tanya adikku yang paling bungsu yang masih berumur 4 tahun. Aku tak tahu mau bilang apa untuk menjelaskannya, bibirku bergetar dan tak sanggup untuk mengeja kata-kata dari mulutku.
“Iya dek bentar lagi ayah akan bangun.... Ayah sedang istirahat, ayah sudah capek kerja setiap hari, adek mandi dulu sekarang, nanti kita pergi bermain sama-sama.”
Aku mencoba untuk menenangkan hati adikku yang mulai merengek. Terpaksa aku berbohong kepadanya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak tahu arti tangisan semua orang yang ada di sekelilingnya, ia tidak tahu mengapa ayah tidak bangun-bangun. Kepolosan hati seorang anak kecil yang tidak tahu akan apa yang terjadi. Secara badani memang ia tidak tahu apa-apa, tetapi mungkin jiwanya bisa merasakannya.
Minggu, 01 Oktober 2019 adalah hari yang ditentukan untuk pemakaman ayah. Hari di mana ayah akan dimakamkan, bertepatan juga dengan hari ulang tahunku yang ke-18. Aku merayakan hari ulang tahunku di pemakaman ayah. Hari ini mengingatkanku akan hari kelahiran ku dan juga hari kelahiran baru ayah di dunia kedua. 01 Oktober 2019 adalah hari di mana aku tidak akan pernah lagi melihat senyuman ayah untuk selamanya. Ku kecup kening ayah untuk yang terakhir kalinya, sementara air mataku masih tetap berlinang-linang. Ku masukkan sepucuk surat ke dalam peti ayah, berharap ia akan melihatnya dan memberikan suratku itu kepada Tuhan.
“Tuhan, tolong bacakan surat ini kepada Ayahku. Jangan biarkan Ayahku menangis apabila ia mendengarkan kisah yang tertulis di surat ini.”
“Ayah, cintaku memang tidak bisa mengalahkan cinta Tuhan kepada Ayah. Aku tahu ayah tidak pernah mengeluh akan penderitaan yang ayah rasakan, kepahitan hidup tak pernah terdengar ke telingaku. Aku tahu ayah sering berbohong kepada kami anakmu. Di saat ayah ingin makan sesuatu, tapi aku menginginkannya, ayah berkata, ‘Ini untuk kamu aja, ayah udah makan tadi.’ Saat harus lembur dan pulang malam, ayah selalu sempatkan menemani kami anak-anakmu terutama yang paling kecil, Nedy. Nedy biasanya bertanya kepada ayah, ‘Ayah capek enggak?’ Ayah selalu bilang Tidak, walau sebenarnya matamu mengantuk dan tubuhmu lelah dan sudah lapar. Tengah malam saat menjaga Nedy yang sedang sakit, ayah berkata, ‘Nedy bobo duluan yah, ayah masih belum mengantuk.’ Saat mengantar kami ke sekolah, ayah selalu mengantar kami dengan senyuman dan kecupan walau sebenarnya ayah susah untuk bangun pagi karena lembur kerja. Meskipun kami sudah dewasa, ayah selalu menganggap kami anak kecilmu, mengkhwatirkan diri kami tetapi ayah tidak pernah membiarkan kami mengkhwatirkan ayah. Ayah selalu berusaha tersenyum di saat hati ayah menangis. Ayah, aku ikhlas dengan kepergian ayah, mungkin ayah sekarang telah menganggap kami sudah dewasa. Meskipun ayah tidak ada lagi di dunia, bayangan wajah ayah tetap membawa aroma yang menghidupkan jiwaku. Maafkan kami anak-anakmu yang terkadang lebih sering menyakitkan hati ayah. Semoga ayah bahagia di surga.”
***
“Kamu kenapa melamun kak?” Tanyaku kepada kakakku yang sulung, sambil memegang pundaknya dari belakang.
“Iya... coba kamu lihat dek ke atas. Sinar bulan malam ini sangat terang, bintang juga banyak yang berkedip di langit. Tidak seperti hari sebelumnya, biasanya bintang tidak kelihatan karena ditutupi oleh asap kendaraan, dan suasana malam ini sangat tenang karena suara kendaraan dan orang yang lalu-lalang juga tidak terlalu banyak.”
“Iya kak, aku juga merasakan hal yang sama, mungkin ini pengaruh lockdown, sehingga bulan dan bintang sudah mulai bersinar, yang biasanya tertutupi oleh asap kendaraan. Mungkin dunia saat ini butuh istirahat, karena sudah terlalu lelah.” Sambil aku mengikuti arah pandangan kakakku ke langit.
“Teruss.... Bagaimana suasana hatimu saat ini dek, Masih marah kepada pihak rumah sakit Karena kepergian ayah?”
“Gak lagi Kak... Aku terlalu banyak menelan tanpa sempat menguyah. Aku sudah ikhlas dengan kepergian Ayah, lagian Ayah sudah bahagia di surga. Mungkin saja Ayah juga sudah terlalu lelah melihat dunia saat ini, dan ia butuh istirahat dengan tenang.”
***
Waktu begitu cepat berlalu, sudah dua tahun lamanya kisah itu tertulis di buku anticku yang jarang kubuka. Dua tahun lamanya aku masih belum menerima balasan surat dari Ayah. Penantian itu mungkin saja akan abadi. Aku tahu penantian itu hanya akan membawa kesia-siaan. Mungkin saja surat itu sekarang telah menyatu dengan tanah. Aku memang bodoh dan konyol menantikan sesuatu yang tidak akan pernah datang, berharap akan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Meskipun aku tidak mendapat balasannya aku berharap Tuhan telah membacakannya di surga untuk Ayahku. Aku memang tidak bisa lagi melihat Ayah dengan mataku sendiri, tapi aku bisa melihat ayah dengan mata hatiku. Karena melihat sesuatu yang lebih indah bukanlah dengan mata melainkan dengan mata hati.
#Fm-
Komentar
Posting Komentar