Langsung ke konten utama

SUARA MIRING AL-GAZALI TERHADAP FILOSOFI EMANASI (IBN SINA) (Sebuah Analisis dari kitab Tahafut Al-Falasifah)



 

A.  Tesisi

Al-Gazali menyatakan Wujud (eksistensi) saling terkait antara satu sama lain. Ibn Sina dalam filosofi emanasi menggabungkan antara ilmu alamiah dengan ilmu Ilahi menjadi satu disiplin Ilmu. Ini menjadi sasaran kritik Al-Gazali penempatan Allah lebih rendah dari akal-akal yang diciptakannya.

 

B.  Pengantar

Al-Gazali dalam kritiknya mengarah pada Ideologi para saintis yang bertentangan dengan Aqidah Islam. Dengan kata lain, Al-Gazali tidak mengkritik semua bagian dalam filsafat, melainkan yang bertentang dengan Akidah. Ia mendekontruksi ungkapan yang tidak cocok secara logika. Suara miring Al-Gazali dilatarbelakang/pengaruh tokoh Asy’ary yang bertolak dari kekuasaan dan kehendak mutlak kepada Allah. Hal ini tampak dalam perbedaan pemikiran antara Ibn Sina yang mendasarkan pada rasio manusia, dan Al-Gazali bertolak dari empirik keagamaan yang ditemukannya dalam jalan Sufiah (perjalanan batin: suluk dan dzauq).

Inkoherensi menjadi sasaran pemikiran kritiknya. Apa bila orang mempercayainya akan menuju pada kekafiran. Tiga preposisi metafisik yang di tolak: soal keabadian alam, pencipta dan mana yang dicipta, dan pengetahuan universal Tuhan. Pokok pembahasan mengarah kepada: pertama, ketidak konsisten pernyataan para filsuf tentang alam diciptakan oleh Tuhan. Kedua, apakah teori emanasi Ibn Sina (filosofi emanasi) “yang satu hanya melahirkan yang satu dapat dikatakan benar dan sesuai dengan prinsip-prinsip logika serta hukum Islam (Alquran)?

 

C.  Allah adalah pencipta alam

Alam semesta yang dihuni manusia dan segenap mahluk ciptaan terbentuk dari suatu proses yang panjang didasarkan pada Pencipta dan ciptaan-Nya. Kehidupan di alam semesta memiliki keanekaragaman yang saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Manusia adalah mahluk sempurna yang mendiami alam semesta. Kemampuan dari pengetahuan dan akal budi manusia memengaruhinya untuk bertindak dan berpikir. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia mulai bertanya atas realitas yang terjadi. Muncul pertanyaan: siapakah yang menciptakan seluruh kehidupan? Realitas ini terarah kepada seseorang yang menciptakan, Ia adalah kekal dan abadi yang disimpulkan dalam bahasa manusia adalah Tuhan.

Alam semesta dicipta oleh Tuhan sebagai pelaku utama. Kata “pelaku” mengacu pada pembuat dari tindakannya. Seorang pelaku adalah istilah bagi orang yang menjadi sumber perbuatan yang disertai kehendak untuk melakukan sesuatu. Pelaku dari perbuatan adalah sebab atas terwujudnya perbuatan atas tindakan berdasarkan kehendak (iradah), dan kebebasan memilih (ikhtiyar).[1] Namun, semua filsuf (kecuali kaum ateis-materialis) mengatakan alam sebagai hasil perbuatan ciptaan Tuhan. Para filsuf juga mengatakan bahwa dunia itu abadi dan dunia tidak pernah berhenti eksis bersama dengan Tuhan, dan Tuhanlah akibat dari adanya dunia dan bersamanya.[2] Di sisi lain, Tuhan bukan Zat yang berkehendak. Dia sama sekali tak bersifat, dan yang berasal dari-Nya adalah suatu konsekuensi yang niscaya (luzum wa daruru). Pernyataan ini bertentangan dengan prinsip awal atas yang dikemukakan oleh para filsuf. Karena itu, Al-Gazali menyerang filsafat yang mengacu pada tafsiran yang diberikan mereka.[3] Pada tulisan ini akan dijabarkan alasan Al-Gazali menentang pandangan yang dapat menyesatkan dan melenceng jauh dari akidah Islam.

Pertama, Allah sebagai pelaku ialah bahwa Dia adalah sebab bagi eksistensi (wujud) setiap yang bereksistensi (maujud) selain-Nya. Allah memelihara alam, ketiadaan Allah dapat diandaikan bahwa alam juga pasti tidak ada. Pengandaiannya matahari memancarkan sinar, ketiadaan matahari berarti tidak ada sinar.[4] Dasar ini mengacu kepada pelaku yang menyebabkan sesuatu terjadi. Pada dasarnya, pernyataan ini sangat bertentangan dengan kehendak secara hakiki yaitu Allah sesungguhnya tidak mempunyai perbuatan atas ciptaannya. Al-Gazali dalam bukunya (Tahafut Al-Falasifah) mengatakan: Semua perbuatan benda mati tersebut bersifat metaforsis (penggantian sebuah penanda dengan yang lainnya). Perbuatan dalam pengertian sebenarnya (haqiqi) tergantung pada kehendak. Jelas bahwa pengandaian para filsuf Tuhan bukan zat yang berkehendak mengingkari prinsip awal tentang kehendak. Allah tidak punya kehendak dan tidak punya kebebasan memilih untuk berbuat, mereka menyebut-Nya sebagai pelaku atau pencipta hanya dalam dataran pengertian metaforsis.

Kedua, Allah sebagai pencipta alam dalam perbuatan. Perbuatan harus mempunyai permulaan. Tetapi para filsuf mengatakan alam adalah kekal (qadim), bukan temporal (hadis). Suatu perbuatan mengeluarkan sesuatu non eksistensi ke eksistensi, dengan memberinya suatu aspek temporal.[5] Sejatinya, sesuatu yang maujud secara kekal tidak dapat dicipta dengan memberinya suatu asal temporal (syarat yang tidak dapat dibuang bagi perbuatan). Dengan ini muncul pertanyaan? Dimanakah letak perbuatan Tuhan atas ciptaan?

Al-Gazali menyatakan perbuatan berhubungan dengan pelaku di dalam keadaan temporalnya, ia merupakan fenomena temporal dan perpindahan dari tiada menuju ada (wujud). Meskipun demikian, sesuatu perbuatan dapat masuk akal apabila dilakukan oleh sesuatu yang bereksistensi (maujud). Perbuatan juga menyatu bersama dengan pelaku. Namun dampak dari suatu tindakan tidak dapat dikatakan kekal. Para filsuf mendeskripsikan kekekalan dengan wujud orang lain. Dengan kata lain, sesuatu yang kekal dan abadi wujudnya dijelaskan dengan bahasa yang metaforsis dengan tidak berdasarkan pada pembuktian yang tepat. Allah sebagai pencipta Allam sesungguhnya merupakan pemaknaan dengan bahasa metaforsis. Pelaku sebagai subjek pertama yang menciptakan tidak mengacu pada makna hakikinya. Hal yang senada berhubungan dengan penciptaan dan ciptaannya mendasarkan pemikiran Ibn Sina tentang ketunggalan murni bahwa “yang satu hanya melahirkan yang satu”.

 

D.  Kerancuan ketunggalan murni (Pemikiran kontra antara Ibn Sina dan Al-Gazali)

Dalam teori Emanasi Ibn Sina yang menganut paham dari Plotinus mengatakan bahwa dari yang satu hanya dapat menghasilkan yang satu. Hal ini merujuk pada prinsip pertama Tuhan adalah tunggal dari segala seginya. Pada kenyataannya alam terdiri dari berbagai bagian. Awal dari titik berangkat pemikiran Ibn Sina adalah akal dan penelitian rasional. Proses kemunculan “dua” dari “satu” tampak dalam teori emanasi Ibn Sina.

Secara kronologis emanasi Ibn Sina dapat dijabarkan bahwa dalam akal pertama memancar akal kedua yang disebut sebagai langit pertama, hal senada terjadi dan berakhir pada akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh, bagian yang kesembilan mengurus yang berkenan dengan langit dan yang terakhir muncul yaitu untuk mengurus sesuatu di bumi yang berada di bawah bulan.[6] Akal ke sepuluh memberikan eksistensi pada dunia membentuk dan menggabungkan dengan materi.[7] Akal ke sepuluh disebut dengan active intelligence, dengan memberi masing-masing bentuk yang cocok dan masing-masing tubuh jiwa. Jadi akal terakhir adalah sebab dari eksistensi jiwa (soul) manusia.[8]

Pernyataan ini ingin menunjukkan bahwa Alam seluruhnya tak berasal dari Tuhan tanpa perantara. Ciptaan pertama atau akal pertama merupakan akal murni (aql mujarradl pure intelligence) suatu esensi yang tunggal, tidak bertempat dan mengetahui dirinya sendiri, dalam bahasa teologis disebut Malaikat. Dari akal pertama melahirkan akal-akal yang lain melalui perantara. Pernyataan ini sesungguhnya tidak dapat diaplikasikan pada prinsip pertama (Tuhan). Tuhan adalah zat yang tidak memiliki keberagaman, Ia sama sekali tidak mengandung dualitas, bahkan pluralitas dan tidak seperti materi.[9]

Dari yang satu hanya menghasilkan yang satu adalah pernyataan yang mengingkari prinsip awal. Mengapa demikian? Untuk memperjelas pernyataan ini Al-Gazali menyampaikan pernyataannya atas argumen para filsuf. Menurut para filsuf, manusia terdiri dari jiwa dan Tubuh. Keduanya menyatu dalam satu eksistensi dan tidak saling mengadakan; jiwa tidak berasal dari tubuh dan sebaliknya tubuh tidak berasal dari jiwa. Muncul pertanyaan, bagaimana semua hal yang tersusun bisa bereksistensi? Bukankah yang satu hanya melahirkan yang satu. jika pertemuan itu terjadi makan pernyataan dari filsuf yang mengatakan yang tunggal hanya melahirkan yang tunggal tidak bisa diterima kebenarannya secara rasional.[10]

Pemikiran Ibn Sina mengenai emanasi merujuk pada pertanyaan “mengapa”, “berapa”, dan “apa”. Jelas bahwa intelek manusia tidak mampu menjelaskan sebab-sebab kemungkinan yang menjadikan sesuatu dari substansi yang mengadakan tampa diadakan. Dari “yang satu hanya dapat melahirkan yang satu” bertentang dengan realitas indrawi manusia dan jelas bertentangan juga dengan ajaran tauhid. Pernyataan ini didukung dengan ketidakmampuan mejelaskan proses munculnya “dua dari “satu”. Tidak mungkin seseorang dapat hadir dalam dua tempat yang berbeda dengan waktu yang bersamaan. Sejatinya pikiran manusia tidak mampu menjelaskan dasar yang tepat jika menyentuh realitas yang Transenden. Ia merupakan pelaku yang mengetahui, berkehendak dan berkuasa dengan melakukan apa yang di sukai seperti menciptakan mahluk-mahluk yang berbeda dalam satu realitas. Inilah dasar dari Nabi Muhammad Saw bersabda: “berpikirlah kalian tentang ciptaan dan aktivitas kreatif Tuhan, dan jangan berpikir tentang esensi-Nya (Zat Allah)”.

 

E.  Epistimologi

Epistimologi muncul dalam ranah metafisika. Manusia mencari jawaban diluar dirinya dengan mengemukakan pertanyaan: Apa itu dunia? Apa itu Jiwa? Lain sebagainya. Sejatinya, manusia adalah mahluk yang tidak akan pernah puas akan jawaban-jawaban yang menyajikan pemahaman yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Manusia menemukan jawaban diluar dirinya saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Dengan itu, manusia mulai merujuk pada dirinya sendiri untuk menjawab pertanyaan itu. Apakah intelek manusia mampu menjawab permasalahan-permasalahan itu? Dengan merujuk pada diri sendiri sebagai subjek sekaligus objek atas pertanyaan yang saling bertentangan pada ranah inilah manusia memasuki kawasan epistimologi.

Ranah dari epistimologi adalah subjek (manusia) yang memikirkan dan mengetahui. Pertanyaan mendasar yang diajukan epistimologi adalah bagaimana diri manusia dapat mengetahui?[11] Dasar dari pertanyaan manusia beranjak dari keingintahuan dan kecurigaan atas realita yang dialaminya. Sama seperti para filsuf Yunani yang berasal dari Miletos: Thales, Anaximandros, dan Anaximenes. Mereka menaruh kecurigaan pada tatanan alam semesta yang terjadi secara alami. Mereka terutama merasa tertarik oleh perubahan terus-menerus pada alam (pada badan-badan jagat raya, musim-musim yang berganti sepanjang tahun, laut, dan sebagainya). Karena itu, mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan yang tak henti-hentinya itu. Muncul pertanyaan, apakah asas yang pertama itu? Masing-masing dari mereka mengemukakan pendapat yang berbeda-beda sesuai dengan ekspetasinya. Dimulai dari Thales mengatakan bahwa yang pertama itu: Air. Anaximandros berpendapat bahwa: Yang tak terbatas. Dan Anaximenes menjawab: Udara. Ketiga jawaban ini adalah awal dari sebuah pemikiran yang ada diluar diri manusia kemudian dijadikan panduan untuk mengetahui lebih dalam. Ternyata tidak semua jawaban mengarah pada yang “benar” secara asali. Karena itulah, muncul pemikiran yang mengarah pada epistimologi yang merupakan refleksi kritis tentang metafisika. Dengan kata lain, manusia mungkin saja akan sampai pada kesimpulan, bahwa apa yang ditemukannya adalah kemungkinan-kemungkinan dan bukan kepastian.

Al-Gazali mengatakan “setiap pengetahuan yang tidak memberi rasa aman bukanlah pengetahuan yang sesungguhnya”. Pengetahuan Al-Gazali disebut sebagai pengetahuan kenabian hanya bisa dicapai dengan mata hati (dzauq). Gagasan Al-Gazali tentang pengetahuan dan segala yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan tidak lepas pemikirannya tentang realitas yang bersifat hierarkis. Al-Gazali mengatakan pengetahuan manusia bersumber pada tiga hal: kasyf (intuisi), wahyu (al-Qur’an dan Sunnah Rasul), dan aql (akal).[12] Dari sumber pengetahuan yang dimaksud Al-Gazali meskipun dianggap satu kesatuan, namun berbeda dari segi kualitas. Pertama, intuisi hanya mengenal hakikat seluruh kenyataan baik dari subjek (aku) dan objek (seluruh kenyataan) dengan demikian intuisi keadaannya berbeda dengan waktu yang dikenal oleh akal budi manusia. Inti dari nilai intuisi adalah memungkinkan adanya pengalaman lain di samping pengalaman yang dihayati oleh indra.[13] Kedua, akal manusia tidak mampu menyingkapkan segala kenyataan yang berhubungan dengan batas-batas wilayahnya. Dengan kata lain, akal hanya mampu memikirkan sesuatu yang nyata berdasarkan pengertian-pengertian kategori. Ketiga, wahyu adalah keyakinan yang benar tentang Tuhan.

Dari ketiga pengetahuan ini, Al-Gazali telah melangkah lebih jauh dari keraguan-keraguan yang dialami dirinya. Sejatinya, pengetahuan memiliki sisi yang saling melengkapi untuk menyingkapkan yang menyentuh aspek metafisika. Segala sesuatu yang berubah-ubah dan tidak memiliki kepastian abadi merupakan realitas yang masih berada di dunia.[14] Ketidakpastian dan keragu-raguan merupakan modal awal Al-Gazali meneruskan pengembaraan intelektualnya untuk mendapatkan pengetahuan yang sejati mengenai hakikat segala sesuatu. “Pengalaman batin” merupakan puncak dari pencarian intelektual oleh Al-Gazali. Hal ini ditempuh dari jalan sufisme yang intensif. “Mencapai suatu pengertian dengan alasan dan bukti serta keterangan dinamakan dengan ilmu pengetahuan: sedangkan mengalaminya adalah dzauq.[15] Pada dasarnya kemampuan akal manusia untuk menyingkapkan segala sesuatu dari ketidakpastian akan jawaban yang membelitkan pemikiran adalah suatu kebuntuan jika menyentuh bagian metafisika. Kesadaran Al-Gazali pada pemberian diri kepada yang “Lain” demi mencapai suatu kepastian dari segala keraguan akhirnya tersingkapkan dengan “pengalaman batin” yang telah dialaminya. Sejatinya, pengetahuan hanya melukiskan dengan kata-kata yang mengandung distorsi yang saling membingungkan. Al-Gazali yang telah mengalami dazauq dapat dikatakan telah mengalami hal yang tidak dapat diterangkan oleh bahasa manusia yang pada esensinya terbatas oleh simbol-simbol yang ditetapkan oleh dirinya sendiri.

 

F.   Penutup

Suara miring Al-Gazali atas filosofi emanasi Ibn Sina merupakan persoalan yang menyentuh realitas yang transenden. Pemikiran kedua filsuf ini sesungguhnya dilatarbelakangi pengetahuan dan penghayatan hidup dari realita dunia. Ibn Sina mendasarkan pada rasio manusia dalam menyentuh ranah metafisika, sedangkan Al-Gazali bertolak pada empirik keagamaan yang ditemukannya melalui jalan Sufiah (perjalanan batin). Inti dari penolakan filosofi emanasi Ibn Sina oleh Al-Gazali didasarkan pada kurang lurusnya pemahaman logika dan rasio. Dari yang satu hanya menghasilkan yang satu dapat dikatakan mengingkari prinsip awal. Hal ini digambarkan melalui satu eksistensi yang memunculkan eksistensi yang lain secara berbeda. Penggunaan bahasa metaforsis “Tidak mungkin seseorang hadir di tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan”. Intelek manusia tidak mampu menjelaskan sebab-sebab dan kemungkinan-kemungkinan yang menjadikan sesuatu dari subtansi yang mengadakan tampa diadakan. Kerancuan dalam berpikir atas realita menjadi kunci penolakan Al-Gazali.

Gagasan Al-Gazali tentang pengetahuan dan segala yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan tidak lepas pemikirannya tentang realitas yang bersifat hierarkis. Pertama, intuisi hanya mengenal hakikat seluruh kenyataan baik dari subjek (aku) dan objek (seluruh kenyataan) dengan demikian intuisi keadaannya berbeda dengan waktu yang dikenal oleh akal budi manusia. Segala sesuatu yang berubah-ubah dan tidak memiliki kepastian abadi merupakan realitas yang masih berada di dunia. Kesadaran Al-Gazali pada pemberian diri kepada yang “Lain” demi mencapai suatu kepastian dari segala keraguan akhirnya tersingkapkan dengan “pengalaman batin” yang telah dialaminya. Al-Gazali yang telah mengalami dazauq, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan melalui simbol-simbol yang diciptakan manusia. Keterbatasan manusia tidak mampu melahirkan pemikiran dalam keadaannya dengan yang Ilahi (pencipta yang tidak diciptakan) selain menyatukan esensi dan eksistensi pada Dia pemberi kehidupan.

 

G.  Relevansi

Kritik Al-Gazali terhadap filosofi emanasi Ibn Sina hanya berkisar pada kurang lurusnya pemahaman intelektual. Kerancuan berpikir memengaruhi tarap untuk menyalami pengetahuan. Sejatinya, manusia diciptakan dengan keterbatasan untuk mengetahui hakikat alam semesta dan pencipta-Nya. Penulis dalam argumennya menyatakan penting relasi antara aku dan Dia. Hal yang utama bukan untuk membuktikan melainkan menyadari bahwa semuanya itu menjadi bagian dari misteri yang tak tersingkapkan. Penting akal budi menjadi landasan menjelaskan iman agar mampu menyelami esensi dari Ketunggalan Murni.

 

 

 


 



[1] Imam Al-Gazali, Kerancuan Filsafat: Tahafut Al-Falasifah (Yogyakarta: Forum, 2005), hlm. 79.

[2] Jon McGinnis, David C. Reisman, Classical Arabic Philosophy (Cambridge: Hackett, 2007), hlm. 241.

[3] Mohd Fakhrudin Abdul Mukti, Al-Gazali and his refutation of philosophy (Jurnal Usluddin, 2005: 1-22), hlm.13.

[4] Imam Al-Gazali, Kerancuan Filsafat: Tahafut Al-Falasifah…, hlm. 84.

[5] Imam Al-Gazali, Kerancuan Filsafat: Tahafut Al-Falasifah…, hlm. 85.

[6] Amroeni Drajat, Filsafat Islam, buat yang pengen tahu (Jakarta: Erlangga, cet 6, 2011), hlm. 47.

[7] Seyyed Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama, Filsafat Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu ‘Arabi (Cambridge: Harvard University, 1961-1962), hlm. 61.

[8] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, pembuka pintu gerbang filsafat modern (Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2004). hlm 100.

[9] Imam Al-Gazali, Kerancuan Filsafat: Tahafut Al-Falasifah…, hlm. 93.

[10] Imam Al-Gazali, Kerancuan Filsafat: Tahafut Al-Falasifah…, hlm. 95.

[11] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim…, hlm 128.

[12] Khudori Soleh, Filsafat Islam dari klasik hingga kontemporer (Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2016), hlm. 115.

[13] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim…, hlm 142.

[14] Jon McGinnis, David C. Reisman, Classical Arabic Philosophy…, hlm. 239.

[15] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim…, hlm 151.





Bibliography

 

Jon McGinnis, David C. Reisman. Classical Arabic Philosophy. Cambridge: Hackett, 2007.

Mohd Fakhrudin Abdul Mukti. Al-Gazali and his refutation of philosophy. Jurnal Usluddin, 2005: 1-22.

Ahmad Zainul Hamdi. Tujuh Filsuf Muslim, pembuka pintu gerbang filsafat modern. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2004.

Amroeni Drajat. Filsafat Islam, buat yang pengen tahu. Jakarta: Erlangga, cet 6, 2011.

Imam Al-Gazali. Kerancuan Filsafat: Tahafut Al-Falasifah. Yogyakarta: Forum, 2005.

Khudori Soleh. Filsafat Islam dari klasik hingga kontemporer. Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2016.

Seyyed Hossein Nasr. Tiga Mazhab Utama, Filsafat Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu ‘Arabi. Cambridge: Harvard University, 1961-1962.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dewa Zeus dan Hermes dalam Kisah Para Rasul 14:7-20

  Dewa Zeus dan Hermes dalam Kisah Para Rasul 14:7-20 Pewartaan yang disalahartikan oleh orang-orang penyembah dewa Zeus   1.      Latar Belakang Perjalanan misi Paulus dan Barnabas dalam memberitakan Injil mendapat penafsiran yang berbeda di kalangan orang-orang penyembah Zeus di Listra (lih. Kis 14:7-20). Mereka melihat tindakan rasul-rasul itu sebagai bagian dari perbuatan dewa-dewi dalam kepercayaan mitologi Yunani [1] (lih. Kis14:12). Perjalanan misi itu dimulai ketika mereka [Paulus dan Barnabas] di Listra, sekitar 25 mil sebelah selatan Ikonium, mereka bertemu dengan seorang yang lumpuh sejak lahir dan tak pernah mampu berjalan. Melihat iman orang tersebut, Paulus memerintahkan agar dia berdiri, dan orang itu dengan patuh melonjak berdiri dan berjalan kesana-kemari (lih. Kis 14:8-10). Orang banyak berseru bahwa dewa-dewa telah turun! Mereka yakin Barnabas adalah Zeus, sementara Paulus dianggap sebagai Hermes (Kis 14:11-12). [2] Karena itu, m...

SEPUCUK SURAT UNTUK SAUDARI MAUT

Kematian bagi sebagian besar adalah mimpi buruk yang harus dan tetap terjadi. Tidak ada yang dapat menolak atau meyakinkan dirinya bahwa kehidupan akan berjalan sesuai dengan ekspetasi dirinya sendiri. Kematian akan menjadi semakin menyedihkan kala orang yang kita sayangi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Pergi menuju kehidupan kekal bersama Bapa di surga. Lord what do you want me to? St. Francis of Asisi. *** “Aku memilih untuk mengabdikan diri kepada Tuhan, aku rasa inilah pilihan hidup yang mesti aku jalani untuk selama-lamanya” ucapku dalam hati seusai misa pagi. Entah mengapa ada suara yang menggema seakan-akan menarikku menjawab panggilan lembut itu. Diawali dengan hari yang cerah, alam menyapa, kabut berbicara, seakan membuka mata. Pagi itu, aku hendak menghadap rektor seminari pater Anselmus. Aku ingin mengutarakan segala gejolak yang selama ini membungkus isi hatiku. Namun langkah ku terhenti seketika mengingat kondisi orangtuaku yang mengidap tumor ganas di tubuhnya. Pe...

TINDAKAN MANUSIA Suatu eksistensi manusia antara “baik” dan “jahat”

Pengantar Tindakan manusia menentukan eksistensinya. Lebih lanjut, tindakan menggarisbawahi perihal siapa dirinya di hadapan Allah, dan mahluk ciptaan lainnya. Bertindak adalah ciri khas setiap mahluk hidup. Tindakan manusia tidak hanya berkaitan dengan eksistensinya sebagai mahluk hidup, namun lebih mengarah pada cinta manusia dalam tindakannya mencerminkan nilai-nilai manusiawi. Makna terminologi “eksistensi” mengartikan bahwa segala tindakan manusia harus memenuhi syarat moral.   Manusia sebagai ciptaan Allah Pemahaman manusia sebagai ciptaan Allah tidak lepas dari konteks Kitab Suci. Kisah penciptaan manusia “menurut Gambar Allah” (Kej 1:26-27) dan penciptaan manusia dari “tanah” (Kej 2:7) menjadi pedoman untuk melukiskan tindakan manusiawi manusia. [1] Manusia diciptakan menurut gambar Allah menerangkan bahwa sesungguhnya manusia mahluk yang paling sempurna dari semua ciptaan lainnya. Manusia memiliki kesanggupan seperti Allah, kendati demikian eksistensi sebagai mahluk yang ...