SUARA MIRING AL-GAZALI TERHADAP FILOSOFI EMANASI (IBN SINA) (Sebuah Analisis dari kitab Tahafut Al-Falasifah)
A. Tesisi
Al-Gazali
menyatakan Wujud (eksistensi) saling terkait antara satu sama lain. Ibn Sina
dalam filosofi emanasi menggabungkan antara ilmu alamiah dengan ilmu Ilahi
menjadi satu disiplin Ilmu. Ini menjadi sasaran kritik Al-Gazali penempatan
Allah lebih rendah dari akal-akal yang diciptakannya.
B. Pengantar
Al-Gazali
dalam kritiknya mengarah pada Ideologi para saintis yang bertentangan dengan
Aqidah Islam. Dengan kata lain, Al-Gazali tidak mengkritik semua bagian dalam
filsafat, melainkan yang bertentang dengan Akidah. Ia mendekontruksi ungkapan
yang tidak cocok secara logika. Suara miring Al-Gazali dilatarbelakang/pengaruh
tokoh Asy’ary yang bertolak dari kekuasaan dan kehendak mutlak kepada Allah.
Hal ini tampak dalam perbedaan pemikiran antara Ibn Sina yang mendasarkan pada
rasio manusia, dan Al-Gazali bertolak dari empirik keagamaan yang ditemukannya
dalam jalan Sufiah (perjalanan batin: suluk dan dzauq).
Inkoherensi
menjadi sasaran pemikiran kritiknya. Apa bila orang mempercayainya akan menuju
pada kekafiran. Tiga preposisi metafisik yang di tolak: soal keabadian alam, pencipta
dan mana yang dicipta, dan pengetahuan universal Tuhan. Pokok pembahasan
mengarah kepada: pertama, ketidak konsisten pernyataan para filsuf tentang alam
diciptakan oleh Tuhan. Kedua, apakah teori emanasi Ibn Sina (filosofi emanasi)
“yang satu hanya melahirkan yang satu dapat dikatakan benar dan sesuai dengan
prinsip-prinsip logika serta hukum Islam (Alquran)?
C. Allah
adalah pencipta alam
Alam
semesta yang dihuni manusia dan segenap mahluk ciptaan terbentuk dari suatu
proses yang panjang didasarkan pada Pencipta dan ciptaan-Nya. Kehidupan di alam
semesta memiliki keanekaragaman yang saling melengkapi antara satu dengan yang
lainnya. Manusia adalah mahluk sempurna yang mendiami alam semesta. Kemampuan
dari pengetahuan dan akal budi manusia memengaruhinya untuk bertindak dan
berpikir. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia mulai bertanya atas
realitas yang terjadi. Muncul pertanyaan: siapakah yang menciptakan seluruh
kehidupan? Realitas ini terarah kepada seseorang yang menciptakan, Ia adalah
kekal dan abadi yang disimpulkan dalam bahasa manusia adalah Tuhan.
Alam
semesta dicipta oleh Tuhan sebagai pelaku utama. Kata “pelaku” mengacu pada
pembuat dari tindakannya. Seorang pelaku adalah istilah bagi orang yang menjadi
sumber perbuatan yang disertai kehendak untuk melakukan sesuatu. Pelaku dari
perbuatan adalah sebab atas terwujudnya perbuatan atas tindakan berdasarkan
kehendak (iradah), dan kebebasan memilih (ikhtiyar).[1] Namun, semua filsuf
(kecuali kaum ateis-materialis) mengatakan alam sebagai hasil perbuatan ciptaan
Tuhan. Para filsuf juga mengatakan bahwa dunia itu abadi dan dunia tidak pernah
berhenti eksis bersama dengan Tuhan, dan Tuhanlah akibat dari adanya dunia dan
bersamanya.[2]
Di sisi lain, Tuhan bukan Zat yang berkehendak. Dia sama sekali tak bersifat,
dan yang berasal dari-Nya adalah suatu konsekuensi yang niscaya (luzum wa
daruru). Pernyataan ini bertentangan dengan prinsip awal atas yang
dikemukakan oleh para filsuf. Karena itu, Al-Gazali menyerang filsafat yang
mengacu pada tafsiran yang diberikan mereka.[3] Pada tulisan ini akan
dijabarkan alasan Al-Gazali menentang pandangan yang dapat menyesatkan dan
melenceng jauh dari akidah Islam.
Pertama,
Allah sebagai pelaku ialah bahwa Dia adalah sebab bagi eksistensi (wujud)
setiap yang bereksistensi (maujud) selain-Nya. Allah memelihara alam,
ketiadaan Allah dapat diandaikan bahwa alam juga pasti tidak ada. Pengandaiannya
matahari memancarkan sinar, ketiadaan matahari berarti tidak ada sinar.[4] Dasar ini mengacu kepada
pelaku yang menyebabkan sesuatu terjadi. Pada dasarnya, pernyataan ini sangat
bertentangan dengan kehendak secara hakiki yaitu Allah sesungguhnya tidak
mempunyai perbuatan atas ciptaannya. Al-Gazali dalam bukunya (Tahafut
Al-Falasifah) mengatakan: Semua perbuatan benda mati tersebut bersifat
metaforsis (penggantian sebuah penanda dengan yang lainnya). Perbuatan dalam
pengertian sebenarnya (haqiqi) tergantung pada kehendak. Jelas bahwa
pengandaian para filsuf Tuhan bukan zat yang berkehendak mengingkari prinsip
awal tentang kehendak. Allah tidak punya kehendak dan tidak punya kebebasan
memilih untuk berbuat, mereka menyebut-Nya sebagai pelaku atau pencipta hanya
dalam dataran pengertian metaforsis.
Kedua,
Allah sebagai pencipta alam dalam perbuatan. Perbuatan harus mempunyai
permulaan. Tetapi para filsuf mengatakan alam adalah kekal (qadim),
bukan temporal (hadis). Suatu perbuatan mengeluarkan sesuatu non
eksistensi ke eksistensi, dengan memberinya suatu aspek temporal.[5] Sejatinya, sesuatu yang maujud
secara kekal tidak dapat dicipta dengan memberinya suatu asal temporal (syarat
yang tidak dapat dibuang bagi perbuatan). Dengan ini muncul pertanyaan?
Dimanakah letak perbuatan Tuhan atas ciptaan?
Al-Gazali
menyatakan perbuatan berhubungan dengan pelaku di dalam keadaan temporalnya, ia
merupakan fenomena temporal dan perpindahan dari tiada menuju ada (wujud).
Meskipun demikian, sesuatu perbuatan dapat masuk akal apabila dilakukan oleh
sesuatu yang bereksistensi (maujud). Perbuatan juga menyatu bersama
dengan pelaku. Namun dampak dari suatu tindakan tidak dapat dikatakan kekal.
Para filsuf mendeskripsikan kekekalan dengan wujud orang lain. Dengan kata lain,
sesuatu yang kekal dan abadi wujudnya dijelaskan dengan bahasa yang metaforsis
dengan tidak berdasarkan pada pembuktian yang tepat. Allah sebagai pencipta
Allam sesungguhnya merupakan pemaknaan dengan bahasa metaforsis. Pelaku sebagai
subjek pertama yang menciptakan tidak mengacu pada makna hakikinya. Hal yang senada
berhubungan dengan penciptaan dan ciptaannya mendasarkan pemikiran Ibn Sina
tentang ketunggalan murni bahwa “yang satu hanya melahirkan yang satu”.
D. Kerancuan
ketunggalan murni (Pemikiran kontra antara Ibn Sina dan Al-Gazali)
Dalam
teori Emanasi Ibn Sina yang menganut paham dari Plotinus mengatakan bahwa dari
yang satu hanya dapat menghasilkan yang satu. Hal ini merujuk pada prinsip
pertama Tuhan adalah tunggal dari segala seginya. Pada kenyataannya alam
terdiri dari berbagai bagian. Awal dari titik berangkat pemikiran Ibn Sina
adalah akal dan penelitian rasional. Proses kemunculan “dua” dari “satu” tampak
dalam teori emanasi Ibn Sina.
Secara
kronologis emanasi Ibn Sina dapat dijabarkan bahwa dalam akal pertama memancar
akal kedua yang disebut sebagai langit pertama, hal senada terjadi dan berakhir
pada akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh, bagian yang kesembilan
mengurus yang berkenan dengan langit dan yang terakhir muncul yaitu untuk
mengurus sesuatu di bumi yang berada di bawah bulan.[6] Akal ke sepuluh memberikan
eksistensi pada dunia membentuk dan menggabungkan dengan materi.[7] Akal ke sepuluh disebut
dengan active intelligence, dengan memberi masing-masing bentuk yang
cocok dan masing-masing tubuh jiwa. Jadi akal terakhir adalah sebab dari
eksistensi jiwa (soul) manusia.[8]
Pernyataan
ini ingin menunjukkan bahwa Alam seluruhnya tak berasal dari Tuhan tanpa
perantara. Ciptaan pertama atau akal pertama merupakan akal murni (aql
mujarradl pure intelligence) suatu esensi yang tunggal, tidak
bertempat dan mengetahui dirinya sendiri, dalam bahasa teologis disebut
Malaikat. Dari akal pertama melahirkan akal-akal yang lain melalui perantara.
Pernyataan ini sesungguhnya tidak dapat diaplikasikan pada prinsip pertama
(Tuhan). Tuhan adalah zat yang tidak memiliki keberagaman, Ia sama sekali tidak
mengandung dualitas, bahkan pluralitas dan tidak seperti materi.[9]
Dari
yang satu hanya menghasilkan yang satu adalah pernyataan yang mengingkari
prinsip awal. Mengapa demikian? Untuk memperjelas pernyataan ini Al-Gazali
menyampaikan pernyataannya atas argumen para filsuf. Menurut para filsuf,
manusia terdiri dari jiwa dan Tubuh. Keduanya menyatu dalam satu eksistensi dan
tidak saling mengadakan; jiwa tidak berasal dari tubuh dan sebaliknya tubuh
tidak berasal dari jiwa. Muncul pertanyaan, bagaimana semua hal yang tersusun
bisa bereksistensi? Bukankah yang satu hanya melahirkan yang satu. jika
pertemuan itu terjadi makan pernyataan dari filsuf yang mengatakan yang tunggal
hanya melahirkan yang tunggal tidak bisa diterima kebenarannya secara rasional.[10]
Pemikiran
Ibn Sina mengenai emanasi merujuk pada pertanyaan “mengapa”, “berapa”, dan
“apa”. Jelas bahwa intelek manusia tidak mampu menjelaskan sebab-sebab
kemungkinan yang menjadikan sesuatu dari substansi yang mengadakan tampa
diadakan. Dari “yang satu hanya dapat melahirkan yang satu” bertentang dengan
realitas indrawi manusia dan jelas bertentangan juga dengan ajaran tauhid.
Pernyataan ini didukung dengan ketidakmampuan mejelaskan proses munculnya “dua
dari “satu”. Tidak mungkin seseorang dapat hadir dalam dua tempat yang berbeda
dengan waktu yang bersamaan. Sejatinya pikiran manusia tidak mampu menjelaskan
dasar yang tepat jika menyentuh realitas yang Transenden. Ia merupakan pelaku
yang mengetahui, berkehendak dan berkuasa dengan melakukan apa yang di sukai
seperti menciptakan mahluk-mahluk yang berbeda dalam satu realitas. Inilah
dasar dari Nabi Muhammad Saw bersabda: “berpikirlah kalian tentang ciptaan dan
aktivitas kreatif Tuhan, dan jangan berpikir tentang esensi-Nya (Zat Allah)”.
E. Epistimologi
Epistimologi
muncul dalam ranah metafisika. Manusia mencari jawaban diluar dirinya dengan
mengemukakan pertanyaan: Apa itu dunia? Apa itu Jiwa? Lain sebagainya.
Sejatinya, manusia adalah mahluk yang tidak akan pernah puas akan
jawaban-jawaban yang menyajikan pemahaman yang berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya. Manusia menemukan jawaban diluar dirinya saling bertentangan
antara satu dengan yang lainnya. Dengan itu, manusia mulai merujuk pada dirinya
sendiri untuk menjawab pertanyaan itu. Apakah intelek manusia mampu menjawab
permasalahan-permasalahan itu? Dengan merujuk pada diri sendiri sebagai subjek
sekaligus objek atas pertanyaan yang saling bertentangan pada ranah inilah
manusia memasuki kawasan epistimologi.
Ranah
dari epistimologi adalah subjek (manusia) yang memikirkan dan mengetahui.
Pertanyaan mendasar yang diajukan epistimologi adalah bagaimana diri manusia
dapat mengetahui?[11] Dasar dari pertanyaan
manusia beranjak dari keingintahuan dan kecurigaan atas realita yang
dialaminya. Sama seperti para filsuf Yunani yang berasal dari Miletos: Thales,
Anaximandros, dan Anaximenes. Mereka menaruh kecurigaan pada tatanan alam
semesta yang terjadi secara alami. Mereka terutama merasa tertarik oleh
perubahan terus-menerus pada alam (pada badan-badan jagat raya, musim-musim
yang berganti sepanjang tahun, laut, dan sebagainya). Karena itu, mereka
mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan
yang tak henti-hentinya itu. Muncul pertanyaan, apakah asas yang pertama itu?
Masing-masing dari mereka mengemukakan pendapat yang berbeda-beda sesuai dengan
ekspetasinya. Dimulai dari Thales mengatakan bahwa yang pertama itu: Air.
Anaximandros berpendapat bahwa: Yang tak terbatas. Dan Anaximenes menjawab:
Udara. Ketiga jawaban ini adalah awal dari sebuah pemikiran yang ada diluar
diri manusia kemudian dijadikan panduan untuk mengetahui lebih dalam. Ternyata
tidak semua jawaban mengarah pada yang “benar” secara asali. Karena itulah, muncul
pemikiran yang mengarah pada epistimologi yang merupakan refleksi kritis
tentang metafisika. Dengan kata lain, manusia mungkin saja akan sampai pada
kesimpulan, bahwa apa yang ditemukannya adalah kemungkinan-kemungkinan dan
bukan kepastian.
Al-Gazali
mengatakan “setiap pengetahuan yang tidak memberi rasa aman bukanlah
pengetahuan yang sesungguhnya”. Pengetahuan Al-Gazali disebut sebagai
pengetahuan kenabian hanya bisa dicapai dengan mata hati (dzauq).
Gagasan Al-Gazali tentang pengetahuan dan segala yang berkaitan dengan
kemungkinan-kemungkinan tidak lepas pemikirannya tentang realitas yang bersifat
hierarkis. Al-Gazali mengatakan pengetahuan manusia bersumber pada tiga hal: kasyf
(intuisi), wahyu (al-Qur’an dan Sunnah Rasul), dan aql (akal).[12] Dari sumber pengetahuan
yang dimaksud Al-Gazali meskipun dianggap satu kesatuan, namun berbeda dari
segi kualitas. Pertama, intuisi hanya mengenal hakikat seluruh kenyataan baik
dari subjek (aku) dan objek (seluruh kenyataan) dengan demikian intuisi
keadaannya berbeda dengan waktu yang dikenal oleh akal budi manusia. Inti dari
nilai intuisi adalah memungkinkan adanya pengalaman lain di samping pengalaman
yang dihayati oleh indra.[13] Kedua, akal manusia tidak
mampu menyingkapkan segala kenyataan yang berhubungan dengan batas-batas
wilayahnya. Dengan kata lain, akal hanya mampu memikirkan sesuatu yang nyata
berdasarkan pengertian-pengertian kategori. Ketiga, wahyu adalah keyakinan yang
benar tentang Tuhan.
Dari
ketiga pengetahuan ini, Al-Gazali telah melangkah lebih jauh dari
keraguan-keraguan yang dialami dirinya. Sejatinya, pengetahuan memiliki sisi
yang saling melengkapi untuk menyingkapkan yang menyentuh aspek metafisika. Segala
sesuatu yang berubah-ubah dan tidak memiliki kepastian abadi merupakan realitas
yang masih berada di dunia.[14] Ketidakpastian dan
keragu-raguan merupakan modal awal Al-Gazali meneruskan pengembaraan
intelektualnya untuk mendapatkan pengetahuan yang sejati mengenai hakikat
segala sesuatu. “Pengalaman batin” merupakan puncak dari pencarian intelektual
oleh Al-Gazali. Hal ini ditempuh dari jalan sufisme yang intensif. “Mencapai
suatu pengertian dengan alasan dan bukti serta keterangan dinamakan dengan ilmu
pengetahuan: sedangkan mengalaminya adalah dzauq.[15] Pada dasarnya kemampuan
akal manusia untuk menyingkapkan segala sesuatu dari ketidakpastian akan
jawaban yang membelitkan pemikiran adalah suatu kebuntuan jika menyentuh bagian
metafisika. Kesadaran Al-Gazali pada pemberian diri kepada yang “Lain” demi
mencapai suatu kepastian dari segala keraguan akhirnya tersingkapkan dengan
“pengalaman batin” yang telah dialaminya. Sejatinya, pengetahuan hanya melukiskan
dengan kata-kata yang mengandung distorsi yang saling membingungkan. Al-Gazali
yang telah mengalami dazauq dapat dikatakan telah mengalami hal yang
tidak dapat diterangkan oleh bahasa manusia yang pada esensinya terbatas oleh
simbol-simbol yang ditetapkan oleh dirinya sendiri.
F.
Penutup
Suara
miring Al-Gazali atas filosofi emanasi Ibn Sina merupakan persoalan yang
menyentuh realitas yang transenden. Pemikiran kedua filsuf ini sesungguhnya
dilatarbelakangi pengetahuan dan penghayatan hidup dari realita dunia. Ibn Sina
mendasarkan pada rasio manusia dalam menyentuh ranah metafisika, sedangkan
Al-Gazali bertolak pada empirik keagamaan yang ditemukannya melalui jalan
Sufiah (perjalanan batin). Inti dari penolakan filosofi emanasi Ibn Sina oleh
Al-Gazali didasarkan pada kurang lurusnya pemahaman logika dan rasio. Dari yang
satu hanya menghasilkan yang satu dapat dikatakan mengingkari prinsip awal. Hal
ini digambarkan melalui satu eksistensi yang memunculkan eksistensi yang lain
secara berbeda. Penggunaan bahasa metaforsis “Tidak mungkin seseorang hadir di
tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan”. Intelek manusia tidak mampu menjelaskan
sebab-sebab dan kemungkinan-kemungkinan yang menjadikan sesuatu dari subtansi
yang mengadakan tampa diadakan. Kerancuan dalam berpikir atas realita menjadi
kunci penolakan Al-Gazali.
Gagasan
Al-Gazali tentang pengetahuan dan segala yang berkaitan dengan
kemungkinan-kemungkinan tidak lepas pemikirannya tentang realitas yang bersifat
hierarkis. Pertama, intuisi hanya mengenal hakikat seluruh kenyataan baik dari
subjek (aku) dan objek (seluruh kenyataan) dengan demikian intuisi keadaannya
berbeda dengan waktu yang dikenal oleh akal budi manusia. Segala sesuatu yang
berubah-ubah dan tidak memiliki kepastian abadi merupakan realitas yang masih
berada di dunia. Kesadaran Al-Gazali pada pemberian diri kepada yang “Lain”
demi mencapai suatu kepastian dari segala keraguan akhirnya tersingkapkan
dengan “pengalaman batin” yang telah dialaminya. Al-Gazali yang telah mengalami
dazauq, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan melalui simbol-simbol yang
diciptakan manusia. Keterbatasan manusia tidak mampu melahirkan pemikiran dalam
keadaannya dengan yang Ilahi (pencipta yang tidak diciptakan) selain menyatukan
esensi dan eksistensi pada Dia pemberi kehidupan.
G. Relevansi
Kritik
Al-Gazali terhadap filosofi emanasi Ibn Sina hanya berkisar pada kurang
lurusnya pemahaman intelektual. Kerancuan berpikir memengaruhi tarap untuk
menyalami pengetahuan. Sejatinya, manusia diciptakan dengan keterbatasan untuk mengetahui
hakikat alam semesta dan pencipta-Nya. Penulis dalam argumennya menyatakan
penting relasi antara aku dan Dia. Hal yang utama bukan untuk membuktikan
melainkan menyadari bahwa semuanya itu menjadi bagian dari misteri yang tak
tersingkapkan. Penting akal budi menjadi landasan menjelaskan iman agar mampu
menyelami esensi dari Ketunggalan Murni.
[1] Imam Al-Gazali, Kerancuan
Filsafat: Tahafut Al-Falasifah (Yogyakarta: Forum, 2005), hlm. 79.
[2] Jon
McGinnis, David C. Reisman, Classical Arabic Philosophy (Cambridge:
Hackett, 2007), hlm. 241.
[3]
Mohd Fakhrudin Abdul Mukti, Al-Gazali and his refutation of philosophy
(Jurnal Usluddin, 2005: 1-22), hlm.13.
[4] Imam Al-Gazali, Kerancuan
Filsafat: Tahafut Al-Falasifah…, hlm. 84.
[5] Imam Al-Gazali, Kerancuan
Filsafat: Tahafut Al-Falasifah…, hlm. 85.
[6] Amroeni Drajat, Filsafat Islam, buat
yang pengen tahu (Jakarta: Erlangga, cet 6, 2011), hlm. 47.
[7] Seyyed
Hossein Nasr, Tiga Mazhab Utama, Filsafat Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi, dan
Ibnu ‘Arabi (Cambridge: Harvard University, 1961-1962), hlm. 61.
[8] Ahmad
Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, pembuka pintu gerbang filsafat modern (Yogyakarta:
Pustaka Pesantren. 2004). hlm 100.
[9] Imam Al-Gazali, Kerancuan
Filsafat: Tahafut Al-Falasifah…, hlm. 93.
[10] Imam Al-Gazali, Kerancuan Filsafat: Tahafut
Al-Falasifah…, hlm. 95.
[11]
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim…, hlm 128.
[12] Khudori Soleh,
Filsafat Islam dari klasik hingga kontemporer (Jogjakarta: AR-Ruzz Media,
2016), hlm. 115.
[13]
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim…, hlm 142.
[14] Jon
McGinnis, David C. Reisman, Classical Arabic Philosophy…, hlm. 239.
[15]
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim…, hlm 151.
Bibliography
Jon McGinnis, David C. Reisman. Classical Arabic Philosophy. Cambridge: Hackett, 2007.
Mohd Fakhrudin Abdul Mukti. Al-Gazali and his refutation of philosophy. Jurnal Usluddin, 2005: 1-22.
Ahmad Zainul Hamdi. Tujuh Filsuf Muslim, pembuka pintu gerbang filsafat modern. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2004.
Amroeni Drajat. Filsafat Islam, buat yang pengen tahu. Jakarta: Erlangga, cet 6, 2011.
Imam Al-Gazali. Kerancuan Filsafat: Tahafut Al-Falasifah. Yogyakarta: Forum, 2005.
Khudori Soleh. Filsafat Islam dari klasik hingga kontemporer. Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2016.
Seyyed Hossein Nasr. Tiga Mazhab Utama, Filsafat Islam: Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu ‘Arabi. Cambridge: Harvard University, 1961-1962.
Komentar
Posting Komentar